Payakumbuh, SUMATRALINE --- Dedikasi yang tinggi muncul dari seorang petugas pemadam kebakaran bernama Indra Jaya. Lelaki kelahiran Batusangkar ini sudah 39 tahun bergelut dengan kobaran api. Indra Jaya yang akrab disapa Pak Haji ini memulai karirnya di pemadam kebakaran sejak tahun 1982. Pada tahun 1982 dirinya adalah pegawai honorer petugas pemadam kebakaran Kota Payakumbuh sampai tahun 1988.

Namun pada tahun 1989 Pak Haji Resmi diangkat menjadi PNS dengan ijazah terakhir saat itu SMP. Barulah di tahun 1990 Pak Haji mengikuti ujian persamaan SMA  di Kandep Padang dan naik golongan menjadi II/b.

"Tahun 1990 alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti ujian persamaan SMA di Kandep Padang, dan pada saat itulah golongan saya naik menjadi II/b," Terang Pak Haji sapaan akrabnya.

Kini, petugas pemadam kebakaran senior ini masih bertugas bersama rekan-rekannya di pemadam kebakaran Kota Payakumbuh dengan pangkat golongan III/B dan merupakan petugas pemadam satu-satunya yang belum pernah dimutasi sejak awal mula pengangkatan menjadi PNS. 

Di saat-saat luang, Pak Haji menceritakan suka dukanya selama menjalani tugas. "Kalau suka duka, terus terang lebih banyak dukanya di pemadam kebakaran.Sukanya disaat melakukan pemadaman di berbagai daerah bisa bertemu dengan teman-teman sejawat dan bersama-sama saling bahu membahu menjalankan tugas, kekompakan dan kebersamaan sebagai petugas damkar sangat terasa pada saat itu. Namun dukanya, Selain bertaruh nyawa kita juga harus ikhlas dalam menjalankan tugas. Terlebih jika ada korban yang hangus terbakar, meski korban bukan keluarganya namun kesedihan sangat dalam dirasakan disaat adanya korban yang tidak berhasil diselamatkan ," tuturnya. 

Di awal karir, Pak Haji dalam menunaikan tugas honor yang diterima pada saat itu  hanya cukup untuk ongkos dan makan saja. Padahal tugas yang dia jalankan terbilang berat dan berbahaya.

Selama 39 tahun, Pak Haji sudah mengalami berbagai kejadian menegangkan ketika menaklukan si jago merah yang sedang marah. Bayangan kematian sudah menjadi hal yang biasa baginya. Banyak sudah kejadian menegangkan yang dia lewati selama menjalankan tugas.

Nyawa pun dirasanya sudah digaris batas hidup saat berhadapan dengan kobaran api. Meski sudah puluhan tahun bergelut dengan api, tapi bayangan kematian masih saja sering muncul saat Pak Haji menjalankan tugas.

"Kalau sudah di depan api saya sering mikir jangan-jangan hari ini saya mati. Tapi alhamdulillah masih dikasih kesempatan hidup. Yang penting kita tulus saja menjalani tugas. Jangan banyak ngeluh," ungkapnya. 

Lelaki yang sudah naik haji ini juga menceritakan kalau dirinya pernah pingsan karena jatuh saat mencuci mobil pemadam.  

"Tidak sengaja disaat sedang asik mencuci mobil, saya tergelincir dan jatuh dari atas mobil sehingga menyebabkan pingsan karena benturan yang keras," imbuhnya.

Selain risiko kebakaran, Pak Haji juga harus menghadapi masyarakat yang tidak kooperatif. Pak Haji dan tim pemadam lainnya dilatih agar tidak terpancing emosi. Biar bagaimana pun sikap warga, bagi dirinya, mereka merupakan korban yang harus diselamatkan. Banyak warga yang sering mengeluhkan telatnya pemadam kebakaran tiba di lokasi. Hal itu karena pemadam memang bergerak setelah kebakaran terjadi. Saat api sudah berkobar, perintah pun muncul dan pemadam langsung bergerak.

"Warga banyak yang belum tahu saja kerja kita seperti apa. Yang sudah tahu juga banyak. Mereka kadang datang ke sini bawa makanan," Ujarnya.

Sambil menunggu jatah pensiun, Pak Haji tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Tidak hanya memadamkan api, tugas pemadam kebakaran juga melakukan misi penyelamatan. 

"Sekarang pemadam tidak hanya bertugas memadamkan kebakaran. Tapi juga menjalankan misi penyelamatan. Contohnya  bencana alam, hanyut di sungai dan evakuasi hewan," tandasnya.

Pak Haji tidak pernah berniat meninggalkan tugasnya. Dia menganggap tugas memadamkan api merupakan kewajiban sosial untuk menyelamatkan orang lain. Berbagai bentuk dan jenis korban sudah pernah dia selamatkan. Mulai dari menyelamatkan nenek-nenek, bayi, dan berbagai korban dari segala usia. Menyelamatkan korban yang terjebak di lokasi kebakaran juga sudah sering dia dan timnya lakukan.

"Saat menyelamatkan korban, kita tidak boleh panik. Kalau panik korban bisa tambah panik. Jadi kita arahkan mereka, kita tuntun sampai berada di tempat yang aman," tambahnya.

Kini, Pak Haji tinggal menetap di Kelurahan Parit Rantang hidup bersama istri dan dua orang anaknya serta telah mempunyai dua orang cucu. Harapannya kedepan damkar Kota Payakumbuh dapat lebih baik lagi dari segala sisi, baik itu sarana dan prasarana, peningkatan kesejahteraan serta adanya pelatihan untuk kemajuan SDM.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top