Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Bawah Cakrawala Padang : KP. III-2023 Tebar Pesan Keselamatan di Atas Gelombang ‎



‎Padang – 18 Desember 2025, Di balik tenangnya riak biru perairan Kota Padang, seragam cokelat korps Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumbar tetap berjaga. Pada Kamis (18/12), di bawah naungan langit yang luas, personel KP. III-2003 membelah ombak untuk melaksanakan tugas mulia: memastikan keselamatan mereka yang menggantungkan hidup pada kemurahan laut.
‎Sebuah kapal bagan bernama KM. Kijang Manjo (GT 25) tampak mematung di tengah koordinat patroli. Di atas geladak yang basah, sang nakhoda, Nofriadi, menyambut hangat kehadiran petugas. Bukan sekadar pengawasan dingin, pertemuan di tengah laut itu menjelma menjadi dialog edukatif yang humanis.
Menyemai Kesadaran di Atas Papan

‎Dalam ayunan ombak, personel Ditpolairud menyampaikan pesan-pesan regulasi dengan bahasa yang merangkul. Mereka membedah lembaran UU Perikanan dan Pelayaran bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kompas bagi nelayan agar tetap berada di jalur hukum yang benar.
‎Edukasi ini melampaui sekadar aturan alat tangkap. Petugas dengan telaten mengingatkan bahwa keselamatan adalah "harga mati" yang tak boleh ditawar oleh kelalaian. Kehadiran benda-benda krusial seperti:
‎Jaket Pelampung sebagai benteng terakhir di tengah amukan badai;
‎Radio Panggil sebagai penyambung lidah saat sinyal mulai hilang;
‎Kotak P3K dan APAR sebagai penjaga nyawa dari risiko luka dan api.
‎"Lihatlah langit sebelum melepas sauh," pesan petugas kepada para awak kapal, mengingatkan bahwa peringatan cuaca BMKG adalah kawan setia bagi keselamatan pelayaran. Setelah semua aspek dipastikan aman, KM. Kijang Manjo kembali membelah buih, melanjutkan ikhtiar mencari rezeki di hamparan samudra.
Suara dari Markas Komando

‎Direktur Polairud Polda Sumbar, Kombes Pol Marsdianto dalam sebuah pernyataan yang penuh penekanan, menegaskan bahwa menjaga laut bukan hanya soal menegakkan aturan, tapi soal menjaga nyawa dan masa depan.
‎"Kami memilih jalan dialogis. Personel kami hadir di tengah laut untuk memastikan bahwa kedaulatan aturan dan keselamatan raga nelayan haruslah seiring sejalan. Laut adalah rahim kehidupan bagi Sumatra Barat; menjaganya berarti menjaga keselamatan para syuhada ekonomi yang bekerja di atas gelombang," tuturnya dengan nada penuh wibawa.
‎Hingga sang surya bergeser, perairan Padang dan sekitarnya dilaporkan berada dalam pelukan kedamaian. Deteksi dini terus dipertajam, memastikan setiap jengkal laut tetap menjadi ruang yang aman bagi mereka yang berjuang di atasnya.(SRP)