Jejak Langkah Sang Penjaga Nagari: Sebuah Kidung Pengabdian
Di bawah langit Sumatera Barat yang kerap bersalin rupa antara biru nan tenang dan kelabu yang muram, tersebutlah seorang putra kelahiran Sago Salido. Dr. Era Sukma Munaf Datuak Mangkudum—sebuah nama yang bukan sekadar identitas, melainkan sebuah janji pengabdian yang tertanam sejak tahun 1998 di tanah Pesisir Selatan.
Menenun Benang-Benang Pembangunan
Laksana seorang arsitek peradaban, perjalanan kariernya adalah rangkaian batu bata yang disusun dengan ketelitian seorang teknokrat. Alumnus Universitas Bung Hatta ini tidak membangun dengan angan-angan, melainkan dengan kalkulasi teknik dan nurani. Di tangan dinginnya, cetak biru infrastruktur berubah menjadi urat nadi kehidupan.
Ia adalah saksi dan pelaku sejarah di Dinas Pekerjaan Umum, tempat di mana ia mengadu peluh demi membentang jalan dan mengalirkan air irigasi. Puncaknya, ia menorehkan tinta emas pada jalan tembus Bayang–Alahan Panjang—sebuah lintasan harapan yang membelah bukit, menyatukan hati antardaerah, dan menghidupkan napas ekonomi serta pariwisata yang sempat mati suri.
Menjadi Teduh di Tengah Badai
Kini, garis takdir menuntunnya berdiri di garda terdepan sebagai Kepala BPBD Sumatera Barat. Jabatan ini bukanlah sekadar kursi birokrasi, melainkan sebuah palagan kemanusiaan. Saat bumi Minangkabau menangis karena banjir dan longsor, Era hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai payung bagi rakyatnya yang kedinginan.
Dalam gerak yang tenang namun cekatan, ia memastikan bahwa "Negara" bukan sekadar kata dalam buku undang-undang, melainkan tangan yang merengkuh saat warga kehilangan tumpuan. Kepemimpinannya adalah perpaduan antara ketegasan seorang pemimpin dan kelembutan seorang Datuak yang mengayomi.
Antara Lapangan Hijau dan Amanah Publik
Di luar hiruk-pikuk pemerintahan, ia adalah pribadi yang tetap membumi, menyalurkan energi mudanya pada lapangan hijau sepak bola. Namun, panggilan tugas tetaplah kompas utamanya. Penunjukannya sebagai Penjabat Bupati Pesisir Selatan oleh Gubernur Mahyeldi menjadi bukti sahih bahwa ia adalah "jangkar" yang kuat di masa transisi.
"Bagi Era Sukma Munaf, pengabdian adalah ibadah yang tak putus, dan jabatan adalah jembatan untuk memastikan rakyat tak sendirian saat badai menerjang."(SRP)
