Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Bawah Langit Pasaman: Ketegasan Agung Tribawanto Terus Tindak Tambang Emas Ilegal



Pasaman Barat - Di balik rimbunnya hutan dan aliran sungai Pasaman Barat yang menyimpan potensi emas, terselip isu miring yang mencoba membayangi institusi kepolisian. Kabar tentang “uang payung”—sebuah eufemisme untuk upeti—dan tudingan pembiaran terhadap aktivitas Tambang Emas Tanpa Izin (PETI) menyeruak ke permukaan. Namun, Kapolres Pasaman Barat, AKBP Agung Tribawanto, memilih berdiri tegak untuk memadamkan api spekulasi tersebut.

Dengan nada bicara yang tenang namun sarat ketegasan, Agung membantah narasi yang menyebut jajarannya memberikan ruang bagi para perusak lingkungan. Baginya, isu tersebut bukan sekadar angin lalu, melainkan serangan yang mencederai martabat institusi Polri.

Bantahan di Garis Depan

“Saya tegaskan, tidak ada pembiaran, tidak ada uang payung, apalagi perlindungan terhadap tambang ilegal,” ujar Agung pada Senin (4/1). Pernyataan ini seolah menjadi garis batas yang jelas bahwa hukum tidak untuk diperjualbelikan di wilayah hukumnya.

Ia tak menampik bahwa medan perjuangan melawan PETI bukanlah perkara mudah. Lokasi yang terisolasi secara geografis serta modus pelaku yang kerap bermain "kucing-kucingan" dengan aparat menjadi tantangan harian. Namun, Agung menekankan bahwa penindakan yang mereka lakukan bukanlah sekadar seremoni di depan kamera. Ada kerja intelijen yang senyap, pemetaan data yang presisi, dan komitmen untuk memutus rantai distribusi BBM subsidi yang seringkali diselewengkan untuk menggerakkan mesin-mesin pengeruk bumi.

Pedang Hukum yang Tak Pandang Bulu

Salah satu poin paling krusial dalam pernyataan Kapolres adalah komitmen pembersihan internal. Menanggapi desas-desus keterlibatan oknum anggotanya, Agung membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki bukti valid. Ia menjanjikan pedang hukum yang sama tajamnya bagi siapa pun, tanpa peduli warna seragamnya.

“Kami tidak akan melindungi siapa pun. Institusi Polri sangat terbuka terhadap pengawasan. Jika ada oknum yang bermain, silakan laporkan,” tegasnya.

Menjaga Warisan untuk Anak Cucu

Lebih dari sekadar urusan pasal dan hukuman, Agung melihat isu PETI sebagai ancaman eksistensial bagi masa depan Pasaman Barat. Kerusakan sungai, ekosistem yang carut-marut, serta potensi bencana alam adalah harga terlalu mahal yang harus dibayar demi keuntungan sesaat segelintir orang.

Melalui pendekatan preventif, ia merangkul tokoh adat dan pemuda, mencoba menyentuh kesadaran kolektif bahwa alam Pasaman adalah titipan, bukan warisan yang boleh dihabiskan.

Di akhir pernyataannya, AKBP Agung Tribawanto melempar ajakan bagi masyarakat untuk tidak menjadi penonton dalam kerusakan lingkungan ini. Baginya, keberhasilan menumpas PETI adalah kerja kolosal yang membutuhkan kepercayaan publik dan langkah nyata bersama. Di bawah kepemimpinannya, Polres Pasaman Barat berupaya memastikan bahwa emas yang ada di bumi mereka, tidak lagi dibasuh dengan air mata kerusakan lingkungan dan noda pelanggaran hukum.(*)