Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RSUP Dr. M. Djamil Awali 2026 dengan Transformasi Pengendalian Infeksi dan Efisiensi Antimikroba



PADANG – Memasuki awal tahun 2026, RSUP Dr. M. Djamil Padang mempertegas posisinya sebagai pionir layanan kesehatan berkualitas dengan memperkuat sistem pertahanan rumah sakit terhadap ancaman kesehatan global. Pada Senin (12/1), manajemen rumah sakit menggelar rapat koordinasi strategis bersama Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) serta Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA).

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Direksi ini bertujuan untuk menyelaraskan langkah dalam menghadapi tantangan resistensi obat yang kian kompleks, sekaligus mengoptimalkan efisiensi operasional rumah sakit.

Fokus pada Data dan Inovasi Teknologi

Dalam laporannya, Ketua Komite PPI dan PPRA, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, memaparkan rencana kerja tahun 2026 yang berbasis pada efektivitas layanan dan inovasi teknologi kesehatan. Beliau menegaskan bahwa pengendalian infeksi bukan sekadar aspek administratif, melainkan tulang punggung keselamatan pasien.

"Pengendalian infeksi adalah fondasi utama dalam menjaga keselamatan pasien. Program kerja tahun ini dirancang lebih dinamis dan berbasis data untuk memastikan setiap intervensi medis memberikan hasil maksimal bagi kesembuhan pasien," ujar Dr. Andani.

Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan meliputi:

Rasionalisasi Antibiotik: Menekan penggunaan antibiotik empiris yang tidak terkontrol.

Evaluasi Profilaksis: Menyelaraskan penggunaan obat pencegahan dengan standar medis terbaru.

Budaya Kerja HAIs: Mendorong perilaku pengendalian infeksi (Healthcare-Associated Infections) agar mendarah daging di seluruh lini tenaga kesehatan.

Komitmen Manajemen: Pelayanan Terbaik dan Efisiensi Biaya

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, memberikan dukungan penuh terhadap penguatan pengawasan ini. Menurutnya, pelayanan prima tidak boleh dipisahkan dari kebijakan penggunaan obat yang bijak.

"Penggunaan obat yang tepat bukan hanya soal menekan biaya operasional, tetapi tentang melindungi pasien dari risiko jangka panjang resistensi antimikroba yang mengancam nyawa," tegas Dr. Dovy. Beliau juga menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan Transformasi Layanan Rujukan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI.

Menuju Pusat Rujukan Antimikroba Nasional

Melalui integrasi yang lebih solid antara dokter, farmasi, dan perawat, RSUP Dr. M. Djamil optimis dapat menekan angka infeksi nosokomial secara signifikan pada tahun ini. Manajemen menargetkan RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya unggul dalam pelayanan klinis, tetapi juga menjadi benchmark nasional dalam tata kelola antimikroba yang efisien dan berkualitas.(SRP)