Menghentikan "Silent Pandemic": Komitmen M. Djamil dan BPOM Menjaga Masa Depan Kesehatan Bangsa
PADANG – Di balik gemerlap kemajuan teknologi medis, sebuah ancaman senyap tengah mengintai sistem kesehatan global. Ia tak datang dengan ledakan, namun merayap pasti di lorong-lorong rumah sakit dan meja makan masyarakat: Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antimikroba.
Hari ini, Sabtu (7/2), di Hotel Rocky Plaza, Padang, kesadaran kolektif itu memuncak dalam gelaran Workshop AMR Warrior. Dengan tajuk yang sarat makna, "Act Now, Protect Our Present, Secure Our Future", forum ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan sebuah deklarasi perang terhadap fenomena yang kini dijuluki sebagai silent pandemic.
M. Djamil Sebagai Benteng Pertahanan Utama
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, tidak menahan diri dalam memaparkan realitas pahit di lapangan. Sebagai nakhoda dari salah satu rumah sakit vertikal yang ditunjuk Kementerian Kesehatan sebagai pilot project pengendalian AMR, Dovy menegaskan bahwa pola penggunaan antimikroba saat ini telah berada pada titik kritis.
"Ini bukan lagi soal teori, tapi soal keselamatan nyawa. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik secara sistemik memicu lonjakan morbiditas dan mortalitas. Lebih jauh, resistensi ini menciptakan beban finansial yang menghimpit, baik bagi pasien maupun negara," tegas Dr. Dovy.
Bagi RSUP Dr. M. Djamil, pengendalian AMR adalah "harga mati". Langkah konkret pun telah diambil: implementasi pemeriksaan molekuler sebagai standar skrining utama. Tujuannya jelas, yakni memastikan setiap antibiotik empiris yang diberikan memiliki landasan medis yang presisi, bukan sekadar tebakan yang berisiko memperparah resistensi.
Sinergi Lintas Sektor: Menutup Celah Bahaya
"Ini bukan lagi soal teori, tapi soal keselamatan nyawa. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik secara sistemik memicu lonjakan morbiditas dan mortalitas. Lebih jauh, resistensi ini menciptakan beban finansial yang menghimpit, baik bagi pasien maupun negara," tegas Dr. Dovy.
Bagi RSUP Dr. M. Djamil, pengendalian AMR adalah "harga mati". Langkah konkret pun telah diambil: implementasi pemeriksaan molekuler sebagai standar skrining utama. Tujuannya jelas, yakni memastikan setiap antibiotik empiris yang diberikan memiliki landasan medis yang presisi, bukan sekadar tebakan yang berisiko memperparah resistensi.
Sinergi Lintas Sektor: Menutup Celah Bahaya
Namun, rumah sakit tidak bisa berjalan sendirian. Pengendalian AMR membutuhkan pengawasan hulu ke hilir. Di sinilah peran krusial Badan POM RI. Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D, mengingatkan bahwa penyumbang resistensi bukan hanya berasal dari resep dokter yang tidak terkontrol, melainkan juga penggunaan antibiotik di berbagai sektor kehidupan lainnya.
"AMR adalah ancaman nyata bagi masa depan peradaban. Melawannya adalah tanggung jawab kolektif. Kita harus beranjak dari diskusi menuju aksi nyata—Act Now," seru Prof. Taruna.
Sinergi antara RSUP Dr. M. Djamil dengan BPOM Padang diharapkan mampu menciptakan ekosistem pengobatan yang lebih aman, menertibkan pemakaian antimikroba, dan pada akhirnya, menurunkan angka kematian pasien secara signifikan.
Kolaborasi Para Tokoh
Acara ini juga menjadi ajang konsolidasi para pemangku kebijakan di Sumatera Barat. Kehadiran perwakilan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota Padang, serta para pakar seperti Dr. dr. Andani Eka Putra dan Prof. apt. Marlina, memberikan sinyal kuat bahwa Sumatera Barat siap menjadi garda terdepan dalam mencetak "AMR Warrior".
Perang melawan resistensi antimikroba mungkin tidak akan selesai dalam semalam. Namun, dengan pengetatan tata kelola klinis, kemajuan teknologi molekuler, dan kolaborasi lintas sektor yang solid, harapan untuk melihat generasi masa depan yang sehat dan terbebas dari ancaman superbugs kini memiliki landasan yang jauh lebih kuat.(Rls/SRP)
