Perumda AM Padang Distribusikan 500 Mushaf untuk Santri
PADANG — Perumda Air Minum Kota Padang bersinergi dengan Dompet Dhuafa (DD) Singgalang meluncurkan program sosial bertajuk penyaluran 500 mushaf Al-Qur’an. Program ini ditujukan untuk mendukung sarana belajar para santri, penghafal Al-Qur’an, serta masjid dan mushalla yang tersebar di berbagai titik di Kota Padang.
Distribusi tahap awal telah menyasar MDTA Nurul Huda dan Masjid Al-Bahrain dengan total 67 mushaf. Secara keseluruhan, program ini akan menjangkau tujuh lokasi strategis, termasuk wilayah-wilayah yang sempat terdampak bencana banjir beberapa waktu lalu.
Kasubag Humas Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie Zein, menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali semangat literasi agama di tingkat akar rumput.
"Kami ingin menghadirkan kembali semangat belajar, terutama bagi generasi muda, agar mereka memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang kuat dengan Al-Qur’an melalui mushaf yang layak," ujar Adhie.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal, menegaskan bahwa tanggung jawab perusahaan daerah tidak hanya terbatas pada penyediaan infrastruktur publik semata. Ia menilai, pembangunan karakter masyarakat melalui nilai-nilai agama merupakan fondasi utama kemajuan sebuah kota.
"Jika air yang kami salurkan setiap hari menghidupkan fisik masyarakat, maka nilai-nilai Al-Qur’an adalah 'air' yang menghidupkan jiwa. Sinergi antara pembangunan fisik dan kekuatan batin adalah kunci dalam membangun peradaban," tutur Hendra.
Sumatera Barat, yang dikenal kental dengan tradisi pendidikan di surau, menjadi latar belakang penting program ini. Melalui kolaborasi ini, DD Singgalang dan Perumda AM Padang berharap dapat memastikan tradisi tersebut tetap terjaga di tengah tantangan zaman.
Partisipasi publik pun diharapkan terus mengalir agar program serupa dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat di masa mendatang. Bagi para santri di pelosok Padang, kehadiran mushaf baru ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan cahaya harapan untuk terus menjaga hafalan dan syiar Islam di tanah Minang.
