Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memperkokoh Kedaulatan Kesehatan: RSUP Dr. M. Djamil dan UNAND Lahirkan Inovasi Deteksi TB Nasional



PADANG – Di tengah akselerasi transformasi kesehatan Indonesia, RSUP Dr. M. Djamil Padang terus mempertegas posisinya sebagai pionir inovasi medis. Melalui sinergi strategis dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan RI ini resmi memperkenalkan INA-Quantiferon TB, sebuah terobosan riset pemeriksaan Interferon Gamma Releasing Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis (TB) laten.

Langkah besar ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR. Dalam kunjungan kerjanya sekaligus memberikan Kuliah Umum bertajuk "Strategi Nasional Percepatan Eliminasi Tuberkulosis" di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Selasa (12/5), Wamenkes menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah perwujudan nyata dari kemandirian teknologi diagnostik dalam negeri.

Fondasi Kedaulatan Kesehatan

Dalam orasinya, dr. Benjamin menekankan bahwa sinergi antara rumah sakit pendidikan dan institusi akademik merupakan kunci utama dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.

“Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar riset di atas kertas, melainkan fondasi penting bagi kedaulatan kesehatan Indonesia. INA-Quantiferon TB adalah jawaban atas ketergantungan kita terhadap produk impor selama ini,” tegas Wamenkes di hadapan civitas akademika dan jajaran direksi.

Tak hanya berhenti pada tahap laboratorium, riset ini telah mendapatkan dukungan pendanaan dari Kemenkes RI dan diproyeksikan untuk melakukan hilirisasi bersama Bio Farma. Targetnya jelas: produksi massal untuk pemanfaatan nasional yang lebih luas dan terjangkau bagi masyarakat.

Menjawab Tantangan Eliminasi TB 2030

Data estimasi tahun 2025 menunjukkan tantangan besar dengan proyeksi 1,09 juta kasus TB di Indonesia. Di Sumatera Barat sendiri, estimasi kasus mencapai 25.037 jiwa dengan capaian penemuan kasus yang masih memerlukan akselerasi di berbagai daerah.

Sebagai seorang spesialis paru, dr. Benjamin memahami bahwa TB bukan sekadar isu medis, melainkan masalah multidimensi yang mencakup lingkungan dan kualitas hidup. Oleh karena itu, kehadiran inovasi seperti INA-Quantiferon TB—bersama produk riset lainnya seperti MRSA Assay, Pneumoplex 4.0, HIV Detect, dan HBV Detect Real Time Kit—menjadi amunisi krusial dalam memutus rantai penularan sejak dini.

Komitmen Implementatif RSUP Dr. M. Djamil

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan bentuk kontribusi nyata rumah sakit dalam mendukung transformasi kesehatan nasional.

“Kami tidak ingin inovasi hanya lahir dan berhenti di laboratorium. Komitmen kami adalah memastikan setiap riset dapat diimplementasikan langsung dalam pelayanan kesehatan guna memberikan dampak nyata bagi kesembuhan pasien,” ujar Dr. Dovy.

Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D, dan Ketua PDRPI FK Unand, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Si, menekankan bahwa efektivitas deteksi TB laten melalui sensitivitas tinggi sangat diperlukan karena pasien seringkali tidak menunjukkan gejala klinis (asimtomatik).

Sinergi Lintas Sektor

Acara ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi dari berbagai instansi, mulai dari Sesditjen Kesehatan Lanjutan dr. Sunarto, Ketua Konsil Kesehatan Indonesia drg. Arianti Anaya, hingga anggota DPR RI dr. Suir Syam. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menandakan dukungan penuh terhadap gerakan hilirisasi riset medis di Sumatera Barat.

Dengan lahirnya INA-Quantiferon TB, RSUP Dr. M. Djamil dan Universitas Andalas tidak hanya menjawab tantangan medis, tetapi juga membuktikan bahwa talenta lokal mampu menghasilkan teknologi kesehatan yang kompetitif, aplikatif, dan berdampak global. Indonesia kini selangkah lebih dekat menuju masa depan bebas Tuberkulosis.

Penulis: Sukra Rahmat Putra