Menjemput Berkah, Menjaga Amanah: Menengok Ikhtiar DLH Kota Padang Merajut Ibadah Qurban yang Ramah Lingkungan
Menjemput Berkah, Menjaga Amanah: Merajut Keikhlasan Qurban yang Ramah Lingkungan di Kota Padang
Aroma fajar di bulan Zulhijah selalu membawa getaran yang berbeda. Di sudut-sudut Kota Padang, gema takbir mulai bersahut-sahutan, mengalun mengagungkan asma Allah SWT seiring datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 H. Bagi umat Muslim, ini adalah momen puncak pembuktian keikhlasan—saat hewan-hewan qurban disembelih sebagai simbol ketaatan atas risalah Nabi Ibrahim AS.
Namun, ibadah yang mulia ini sejatinya tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal antara hamba dengan Penciptanya. Ada amanah horizontal yang tidak boleh diabaikan: menjaga bumi, tempat di mana manusia bersujud.
Tahun 2026 ini, Pemerintah Kota Padang menyuarakan sebuah panggilan moral yang menggugah sanubari melalui sebuah gerakan yang jernih: "Qurban Bersih, Lingkungan Lebih Sehat". Sebuah seruan untuk mengubah wajah pelataran masjid dan mushala pasca-penyembelihan, yang selama ini kerap diwarnai oleh tumpukan kantong plastik hitam dan aroma tak sedap dari limbah yang tak terkelola.
Kembali ke Pangkuan Alam
Langkah paling sederhana namun berdampak masif dimulai dari urusan bungkus-membungkus. Plastik sekali pakai, yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, perlahan mulai digeser. Sebagai gantinya, ada ajakan untuk kembali ke kearifan lokal yang sarat estetika dan ramah lingkungan.
Bayangkan keelokan daun pisang yang hijau segar, daun jati yang lebar, atau anyaman besek bambu yang kokoh membungkus potongan daging qurban. Tidak hanya menjaga kesegaran daging dengan cara yang alami, penggunaan wadah-wadah ini juga menghidupkan kembali denyut nadi tradisi luhur kita. Lebih jauh lagi, masyarakat diimbau untuk menumbuhkan kesadaran mandiri: melangkah keluar rumah menuju lokasi pembagian dengan membawa wadah guna ulang sendiri. Sebuah ketukan kecil pada pintu kesadaran untuk memutus rantai sampah plastik sejak dari hulu.
Di area penyembelihan, keseriusan menjaga bumi ini tercermin dari kedisiplinan panitia. Tempat sampah tidak lagi sekadar menjadi wadah penampung yang bercampur aduk, melainkan disediakan secara terpilah. Hijau, kuning, dan hitam menjadi pembatas yang tegas agar sampah tidak menjadi masalah baru setelah perayaan usai.
Mengubur Limbah, Memelihara Kehidupan
Ibadah qurban adalah tentang menyucikan diri, maka prosesnya pun harus suci dari tindakan merusak lingkungan. Infografis pengendalian sampah tahun ini memberikan panduan yang sangat rigid mengenai pengelolaan limbah biologis hewan qurban. Darah, kotoran, dan sisa organ dalam tidak boleh lagi dialirkan begitu saja ke parit, selokan, atau dibuang ke sungai yang membelah kota.
Sungai dan drainase adalah urat nadi kehidupan kota, bukan tempat pembuangan. Sebagai solusinya, tanah kembali menjadi penyelamat. Panitia qurban diarahkan untuk membuat lubang khusus dengan kedalaman minimal 1,5 hingga 2 meter, dengan jarak yang aman dari sumber air warga. Di dalam dekap bumi itulah, limbah organik ditanam dengan rapi, ditutup rapat agar terhindar dari bau menyengat dan potensi penyebaran penyakit. Setelah seluruh prosesi usai, air bekas pencucian pun dialirkan ke saluran yang memadai, disusul dengan aksi gotong royong membersihkan sisa-sisa aktivitas hingga pelataran kembali bersih seperti sediakala.
Ibadah yang Utuh
"Qurban Ibadah, Lingkungan Amanah!" Kalimat penutup ini bukan sekadar slogan pemanis di atas kertas poster. Ia adalah sebuah refleksi mendalam bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial dan ekologis.
Mewujudkan Kota Padang yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan pada Idul Adha kali ini adalah kerja kebudayaan yang membutuhkan tangan semua pihak. Mulai dari ketegasan panitia di lapangan, hingga kerelaan warga yang mengantre daging dengan wadah di tangan.
Ketika darah hewan qurban mengalir ke bumi sebagai bentuk takwa, kebersihan lingkungan yang terjaga menjadi saksi bahwa manusia adalah khilafah yang mengemban amanah untuk merawat semesta, bukan merusaknya. Mari memulai dari hal yang paling kecil, demi masa depan bumi yang lebih hijau dan berkah yang lebih utuh.
Penulis: Sukra Rahmat Putra
