Bintang Penuntun di Bangsal Perawatan: Menghidupkan Pancasila dari Selasar RSUP Dr. M. Djamil
Pagi itu, 1 Juni 2026, matahari terbit di ufuk timur Kota Padang dengan kehangatan yang tak biasa. Di halaman utama RSUP Dr. M. Djamil, barisan berpakaian rapi berdiri dengan khidmat. Di antara deru ambulans yang sesekali melintas halus dan aroma khas antiseptik yang terbawa angin pagi, ratusan pasang mata tertuju pada kibaran Sang Merah Putih. Upacara Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan yang berlalu bersama riuh tepuk tangan, bagi civitas hospitalia rumah sakit rujukan utama ini, ia adalah ritual pengetukan hati.
Di podium upacara, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, Subsp. KFM, MARS, berdiri menatap barisan para dokter, perawat, dan tenaga penunjang medis. Sorot matanya mencerminkan ketegasan sekaligus kelembutan seorang nakhoda yang memimpin institusi kemanusiaan di garis depan. Saat membacakan amanat, sebuah kalimat mendalam mengalun, menggetarkan keheningan pagi: “Kemajuan tanpa arah moral dapat menyesatkan.”
Pernyataan yang dikutip dari amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu seolah menemukan gaung paling nyatanya di koridor-koridor rumah sakit. Di tempat di mana kehidupan dan harapan diperjuangkan setiap detik, moralitas bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan napas dari setiap tindakan medis.
"Pancasila bukan sekadar fondasi sejarah yang kita kenang setiap bulan Juni," ungkap Dr. Dovy Djanas dengan nada suara yang berwibawa namun hangat saat ditemui usai upacara. "Bagi kami di M. Djamil, Pancasila adalah bintang penuntun. Ia adalah kompas moral yang mengarahkan ke mana jemari seorang perawat bergerak, bagaimana seorang dokter mendengarkan keluhan, dan bagaimana sistem pelayanan berpihak pada mereka yang membutuhkan."
Tahun 2026 ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mengusung tema besar: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Sebuah narasi makro yang oleh Dovy Djanas dibumikan menjadi gerakan mikro yang menyentuh langsung ke dasar palung kemanusiaan. Di bawah kepemimpinannya, ia menegaskan bahwa mengamalkan Pancasila di lingkungan hospitalia berarti meruntuhkan sekat-sekat birokrasi yang kaku demi keselamatan pasien.
Bagi insan kesehatan, mengupas sila demi sila Pancasila adalah dengan melihat bagaimana ruang instalasi gawat darurat (IGD) bekerja. Sila kemanusiaan mewujud ketika seorang pasien kritis ditangani terlebih dahulu tanpa menanyakan isi dompetnya. Sila persatuan hidup ketika kolaborasi antardokter spesialis meluruhkan ego sektoral demi satu tujuan: kesembuhan. Sementara gotong royong dan keadilan sosial tegak berdiri saat jaminan kesehatan diintegrasikan secara adil, memastikan masyarakat dari pedalaman Sumatra Barat hingga sudut kota mendapatkan hak pelayanan yang setara, inklusif, dan tanpa diskriminasi.
"Mengamalkan Pancasila di bangsal perawatan berarti memastikan setiap pasien dilayani dengan hormat," lanjut Dovy Djanas, memandang ke arah gedung perawatan yang berdiri megah. "Itu berarti setiap harapan yang disampaikan oleh keluarga pasien didengar dengan empati yang mendalam, dan setiap pengabdian yang melelahkan di shift malam dijalankan dengan hati."
Ketika upacara selesai dan barisan membubarkan diri, suasana kembali riuh oleh aktivitas pelayanan. Namun ada yang berbeda hari itu. Ada binar yang lebih cerah di mata para perawat yang bergegas menuju ruang rawat inap. Ada ketulusan yang lebih hangat saat petugas administrasi menyapa keluarga pasien.
Di selasar RSUP Dr. M. Djamil Padang, Pancasila tidak sedang dihafal. Ia sedang dihidupkan, dirawat, dan dialirkan melalui jarum infus, senyum penyemangat, dan doa-doa yang melangit di ruang ICU. Melayani dengan hati, rupanya, adalah cara paling puitis dan nyata dari insan Dr. M. Djamil untuk mencintai Indonesia.
Penulis: Sukra Rahmat Putra
