Dua Tahun Jejak Pengabdian Naryo Widodo: Ketegasan, Air Mata Perpisahan, dan Benteng Tangguh bagi Ranah Minang
Suasana di kantor Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang kemarin mendadak terasa begitu pekat dan melankolis. Riuh rendah diskusi teknis yang biasanya memenuhi ruangan, berganti dengan keheningan yang sarat akan keharuan. Di sudut-sudut ruangan, tampak air mata yang tak mampu dibendung membayang di wajah seluruh Satuan Kerja (Satker), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta keluarga besar BWS Sumatera V Padang. Kepergian Naryo Widodo, S.T., M.T., untuk mengemban amanah baru, meninggalkan kesedihan mendalam sekaligus kebanggaan yang mengakar di hati mereka yang pernah berjuang bersamanya.
Bagi insan sumber daya air di Sumatera Barat, Naryo Widodo bukan sekadar seorang pemimpin administratif. Selama dua tahun masa pengabdiannya di Ranah Minang, ia telah menanamkan sebuah filosofi kerja yang kokoh: bahwa membangun infrastruktur adalah tentang keikhlasan untuk mengabdi dan melindungi masyarakat.
Menguji Nyali di Garis Depan Bencana
Naryo Widodo bukanlah tipe pimpinan yang hanya duduk di balik meja nyaman di ibu kota provinsi. Ketika bencana hidrometeorologi hebat melanda Sumatera Barat pada akhir November lalu, ia langsung mengonversi instruksi pusat menjadi aksi nyata dan responsif di lapangan. Langkah kakinya terekam jelas di jalur-jalur krusial yang luluh lantak oleh alam.
Saat banjir bandang menghantam kawasan hulu, Naryo turun langsung menerobos medan sulit demi memetakan kondisi infrastruktur sungai dan drainase primer. Dari kawasan Batu Busuk yang berarus kuat, Muara Batang Anai, hingga Muara Batang Air Dingin, ia mengobservasi setiap detail sedimentasi dan kerusakan struktur penahan air. Ia paham betul, setiap detik penundaan berarti ancaman bagi keselamatan ribuan nyawa warga hunian di sekitarnya.
Komitmennya diuji secara nyata saat mendampingi Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, meninjau proyek tanggap darurat di Sungai Air Dingin. Tanpa ragu, Naryo mematok target presisi yang menantang: memulihkan seluruh fungsi aliran sungai dalam waktu 90 hari. Proyek normalisasi alur sepanjang ±2,4 km dan perkuatan tebing tebing sungai sepanjang ±1,9 km dikebut siang dan malam demi mengembalikan rasa aman masyarakat.
Torehan Capaian dan Sinergi Membangun Negeri
Jejak langkah Naryo Widodo di BWS Sumatera V Padang dipenuhi oleh inovasi dan kepekaan sosial yang tinggi. Di bawah komandonya, koordinasi taktis dijalin erat dengan berbagai kepala daerah, termasuk dalam merespons pemulihan infrastruktur pascabencana bersama Pemerintah Kota Padang di titik-titik rawan seperti Batang Kuranji dan penanganan banjir akibat tingginya sedimentasi Batang Ulakan di Padang Pariaman.
Tak hanya fokus pada kedaruratan, visi jangka panjangnya terlihat jelas dari keberhasilan program pembersihan sumbatan material pascabencana di Batang Tampo, penataan kawasan muara yang mengubah ancaman abrasi menjadi ikon wisata seperti di Pantai Gandoriah, hingga kesiapsiagaan posko bencana dan alat berat demi mengamankan jalur mudik Lebaran. Di sela-sela ketegasannya membangun fisik infrastruktur, ia selalu menyelipkan pesan humanis agar setiap jajarannya mengedepankan keikhlasan sebagai energi utama pengabdian kepada negeri.
Senyum Hangat di Akhir Perjalanan
"Beda daerah, beda juga suasananya. Tapi di Sumbar semuanya baik. Saya merasa diterima dengan baik oleh semua pihak," ungkap Naryo Widodo dengan senyum hangat khasnya di momen-momen terakhir masa tugasnya. Dua tahun berlalu dengan cepat, namun fondasi infrastruktur, sistem mitigasi bencana, serta kenangan manis yang ia bangun akan terus menetap.
Kemarin, jabat tangan perpisahan terasa lebih berat dari biasanya. Isak tangis haru yang mengiringi langkahnya keluar dari gerbang balai adalah saksi hidup bahwa Naryo Widodo telah berhasil memimpin tidak hanya dengan instruksi, melainkan dengan hati. Selamat menjalankan amanah baru, Pak Naryo Widodo. Bumi BWS Sumatera V Padang dan seluruh masyarakat Ranah Minang akan selalu menjadi saksi bisu atas ketulusan pengabdianmu untuk negeri.
Penulis: Sukra Rahmat Putra










