Sentuhan Humanis di Hari Bhayangkara: Saat Kapolres Solok Menjemput Air Mata Haru di Sudut Gunung Talang
SOLOK – Matahari Rabu pagi, 10 Juni 2026, baru saja merayap naik ketika deru roda kendaraan memecah keheningan di Jorong Panarian, Nagari Talang, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Di sudut kampung yang tenang itu, dua atap rumah sederhana berdiri sunyi, menyimpan cerita tentang keteguhan hati di tengah belenggu keterbatasan fisik dan usia.
Namun pagi itu, sunyi berganti hangat. Bukan karena terik yang menyengat, melainkan karena hadirnya rombongan korps seragam cokelat. Mereka datang bukan untuk menegakkan aturan atau memeriksa laporan, melainkan membawa sekeranjang kepedulian yang tulus.
Memimpin langsung pergerakan itu, Kapolres Solok, AKBP Agung Pranajaya. Di tengah momentum menyambut Hari Bhayangkara ke-80, perwira menengah ini memilih mengetuk pintu-pintu rumah warga yang membutuhkan, menjemput langsung keluh kesah masyarakatnya dengan tindakan nyata.
Didampingi Kasat Binmas AKP Edwin, Kapolsek Gunung Talang IPTU Armen Nandes, Kasi Propam IPTU Arman Sili, hingga Bhabinkamtibmas Briptu Forta Rendi dan perangkat nagari, langkah kaki Kapolres berhenti di kediaman Ali Akmal.
Pria senja berusia 67 tahun itu adalah mantan petani yang dulunya perkasa mencangkul tanah kehidupan. Kini, tubuhnya ringkih, dipaksa bersahabat dengan sakit menahun yang membuatnya tak lagi leluasa melangkah. Saat daun pintu terbuka, tatapan mata Ali Akmal langsung beradu dengan senyum hangat Kapolres. Ada rona haru yang membuncah, melahirkan senyum tipis di bibirnya yang bergetar.
Tak jauh dari sana, pemandangan serupa menyentuh sanubari saat rombongan mengunjungi Mariati (58). Perempuan paruh baya yang juga didera keterbatasan fisik itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Air matanya nyaris tumpah saat telapak tangan Kapolres mengulurkan paket bantuan, sebuah simbol bahwa ia tidak terlupakan di tengah sunyinya perjuangan melawan sakit.
Bantuan yang dibawa memang berupa kebutuhan dasar—mulai dari beras, minyak goreng, susu, hingga perlengkapan mandi dan popok. Namun, cara barang-barang itu diserahkan—dengan bungkukan badan yang penuh hormat, tatapan mata yang teduh, dan untaian doa—membuat bantuan tersebut bernilai tiada tara.
“Kami datang bukan untuk memberi banyak, tapi ingin berbagi apa yang kami miliki. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat, dan Bapak serta Ibu segera diberi kesembuhan serta kekuatan oleh Allah SWT,” ucapan itu mengalir lirih dan lembut dari bibir AKBP Agung Pranajaya, meruntuhkan sekat antara pejabat daerah dan rakyat jelata.
Di dalam ruangan beralas sederhana itu, Kapolres kemudian menundukkan kepala, memimpin doa bersama. Suasana mendadak khidmat, mengalirkan energi spiritual yang menguatkan jiwa-jiwa yang sedang diuji sakit.
Bagi Polres Solok, aksi heroik tidak melulu soal menangkap pelaku kejahatan di jalanan. Menghadirkan rasa aman dan nyaman di hati seorang warga yang sedang lara adalah bentuk tertinggi dari semboyan "Melindungi, Mengayomi, dan Melayani". Sisi humanis inilah yang ingin ditegaskan bahwa Polri adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat.
Sebelum berpamitan, dengan gaya kebapakan, AKBP Agung juga menyempatkan diri menyelipkan pesan edukasi yang menyentuh. Ia mengingatkan warga sekitar untuk tetap waspada menjaga keamanan lingkungan, memastikan kompor padam, dan instalasi listrik aman sebelum meninggalkan rumah. Sebuah pesan sederhana, namun lahir dari rahim kepedulian seorang pimpinan yang tak ingin warganya ditimpa musibah.
Ketika rombongan bersiap melangkah pergi, menyisakan lambaian tangan dan senyum yang tertinggal, Jorong Panarian tak lagi terasa sunyi. Kehadiran Polres Solok hari itu telah menorehkan catatan indah: bahwa di tengah keterbatasan hidup, masyarakat tidak pernah berjalan sendirian. Masih ada cinta, doa, dan uluran tangan nyata dari Korps Bhayangkara yang hadir justru di saat warganya paling membutuhkan. (
Penulis: Sukra Rahmat Putra
