Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harapan Baru dari Meja Bedah RS M. Djamil: Kisah Bocah Pasaman Kembali Melangkah


Dokumentasi istimewa humas 
‎Di sudut Pasaman Timur, tawa riang seorang bocah lima tahun bernama R mendadak senyap. Tubuhnya yang dahulu lincah perlahan kaku, digerogoti kejang, demam tinggi, hingga campak yang menguras daya hidupnya. Dalam rentang delapan bulan, ketakutan terhebat orang tua menjadi kenyataan: R tak lagi mampu duduk, apalagi melangkah. Tubuh kecilnya semakin mengering, menyisakan derita yang membuat kedua orang tuanya, Masbulan (27), berada di ambang kepasrahan.
‎Tak ingin menyerahkan nasib sang buah hati pada takdir yang muram, langkah kaki keluarga ini berlanjut menuju RS M. Djamil Padang. Di sanalah, secercah harapan ilmiah beradu dengan keajaiban medis. Tim dokter menemukan gangguan serius pada aliran darah menuju otak—sebuah kondisi langka yang mengancam bayangan stroke di usia yang sangat belia.
‎Satu-satunya jalan menuju kesembuhan adalah tindakan bedah mikrovaskular yang rumit: Kraniotomy Bypass STA-MCA double barrel. Prosedur ini bertujuan menyambungkan dua cabang pembuluh darah di luar kepala (Superficial Temporal Artery) langsung ke pembuluh darah otak (Middle Cerebral Artery) guna mengalirkan pasokan darah baru ke area otak yang membutuhkan.
‎"Kami sebagai orang tua saling menguatkan. Bagi kami, kalau ini jalan terbaik untuk R, kami jalani. Bismillah," kenang Masbulan, mengingat detik-detik menjelang keputusan besar tersebut.
‎Hari Kamis (13/8) menjadi panggung perjuangan selama enam jam di ruang operasi. Di bawah kepemimpinan dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas (K) dari RS M. Djamil, bekerja sama dengan tim pengampu nasional RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta di bawah dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, jemari para ahli bedah saraf menyulam harapan baru bagi R. Prosedur proctoring ini menjadi batas tegas antara ancaman kelumpuhan dan potensi kehidupan yang utuh.
‎Tujuh hari berselang, keajaiban kecil itu mekar. Lengan kanan R yang sempat lunglai mulai merespons sinyal dari otaknya, mengembalikan gerakan yang sempat hilang. Walau kaki kanannya masih membutuhkan pemulihan, kepulangan R untuk menjalani rawat jalan membawa kehangatan baru bagi keluarganya.
‎Bagi dr. Ade, perjuangan R adalah pengingat bahwa gangguan pembuluh darah otak tidak mengenal batas usia. Namun, dengan deteksi dini melalui CT Scan, MRI, atau Digital Subtraction Angiography (DSA), ancaman medis tersebut senantiasa bisa diurai.
‎Kini, langkah-langkah kecil R di tanah Pasaman bukan sekadar proses pemulihan fisik. Setiap gerak jemari dan usaha mengayunkan kaki adalah simbol keteguhan hati sebuah keluarga dan keunggulan ilmu medis yang berpadu, menuntun sang bocah kembali menyongsong indahnya masa kecil.(SRP)