Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RS M. Djamil Bahas Masterplan hingga Kesiapan iDRG dalam Raker Ilmu Bedah



Padang - RS M. Djamil terus memperkuat sinergi akademik dan pelayanan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, khususnya Departemen Ilmu Bedah. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Rapat Kerja Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RS M. Djamil di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan yang digelar pada Sabtu (29/8).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Dalam kesempatan tersebut, Dovy Djanas memberikan sambutan sekaligus menyampaikan sejumlah hal strategis yang berkaitan dengan penguatan pelayanan, pengembangan rumah sakit, hingga kesiapan menghadapi perubahan sistem pembiayaan pelayanan kesehatan.

Direktur Utama RS M. Djamil menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan rapat kerja Departemen Ilmu Bedah. Forum tersebut memiliki peran penting dalam menyusun arah pengembangan departemen agar semakin selaras dengan kebutuhan pelayanan rumah sakit, pendidikan, penelitian, serta tuntutan perkembangan layanan kesehatan ke depan.

“Kami tentu sangat mendukung pelaksanaan rapat kerja Departemen Ilmu Bedah ini. Rapat kerja menjadi momentum untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, melihat kebutuhan ke depan, sekaligus menyusun langkah strategis agar pelayanan, pendidikan, dan pengembangan keilmuan dapat berjalan semakin baik,” ujar Dovy Djanas saat memberikan sambutan.

Turut hadir Kabid SDMK Dinas Kesehatan Sumbar Rosmadeli, SKM, M.Biomed, Direktur Utama RS Unand Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp.BTKV, Subsp.VE(K), FIATCVS, Direktur RS Bunda Padang dr. Helgawati, MM, Kepala Departemen Ilmu Bedah Dr. dr. Alvarino, Sp.B, Sp.U, Subsp.Onk (K) dan staf pengajar.

Ia menambahkan, penguatan kolaborasi antara rumah sakit dan Departemen Ilmu Bedah menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan yang bermutu dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan, RS M. Djamil memiliki tantangan pelayanan yang kompleks sehingga diperlukan perencanaan yang matang dan sinergi seluruh unsur yang terlibat.

Dalam kesempatan tersebut, Dovy Djanas juga menyampaikan perkembangan rencana pengembangan masterplan RS M. Djamil. Rumah sakit saat ini terus mempersiapkan berbagai aspek untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan layanan dalam jangka panjang. “Untuk pengembangan masterplan rumah sakit, rencananya akan mulai pada pertengahan tahun 2027. Saat ini sudah masuk Greenbook melalui pendanaan AIIB. Tahap pertama yang direncanakan adalah pembangunan gedung Central Medical Unit (CMU) dan gedung Poliklinik Non JKN,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus berkembang. Pembangunan fasilitas baru tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga mendukung terciptanya pelayanan yang lebih terintegrasi, efektif, nyaman, dan sesuai dengan standar rumah sakit rujukan.

Dovy Djanas menilai Departemen Ilmu Bedah memiliki peran penting dalam mendukung arah pengembangan tersebut. “Dengan kompleksitas kasus yang ditangani serta perkembangan teknologi dan metode pelayanan bedah, kebutuhan terhadap perencanaan layanan yang komprehensif menjadi semakin penting,” tuturnya.

Selain pengembangan infrastruktur, Direktur Utama RS M. Djamil juga menyoroti pentingnya penyusunan unit cost pada layanan rumah sakit. Ia berharap Departemen Ilmu Bedah dapat turut memberikan dukungan dalam proses penyusunan unit cost sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pelayanan dan pembiayaan rumah sakit.

“Kami berharap Departemen Ilmu Bedah juga dapat memberikan dukungan dalam penyusunan unit cost. Ini penting agar kita memiliki gambaran yang jelas mengenai kebutuhan biaya setiap layanan dan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan pelayanan secara lebih baik,” katanya.

Penyusunan unit cost, lanjutnya, menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan efisiensi, efektivitas, serta keberlanjutan pelayanan. “Dengan mengetahui struktur biaya secara lebih akurat, rumah sakit dan departemen pelayanan dapat melakukan perencanaan serta pengelolaan sumber daya secara lebih terukur,” sebut Dirut.

Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah perubahan sistem klaim BPJS Kesehatan yang beralih dari Indonesia Case Based Groups atau INA-CBGs menuju Indonesian Diagnosis Related Groups atau iDRG. Perubahan sistem tersebut dinilai perlu dipahami dan dipersiapkan oleh seluruh unit pelayanan, termasuk Departemen Ilmu Bedah.

“Perubahan sistem klaim dari INA-CBGs menuju iDRG harus kita persiapkan bersama. Ini bukan hanya persoalan administrasi klaim, tetapi juga bagaimana kita memastikan proses pelayanan, pencatatan diagnosis, tindakan, serta dokumentasi medis dilakukan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan,” ungkap Dovy.

Ia menekankan perubahan sistem pembiayaan tersebut membutuhkan kesiapan seluruh unsur rumah sakit. Dokter, tenaga kesehatan, tenaga administrasi, hingga unit terkait perlu memiliki pemahaman yang sama agar proses pelayanan dan klaim dapat berjalan dengan baik. “Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi pada saat yang sama kita juga harus mampu melakukan tata kelola dengan baik. Mutu, keselamatan pasien, efisiensi, dan keberlanjutan rumah sakit harus berjalan bersama,” tegasnya.

Dovy Djanas berharap hasil rapat kerja tidak berhenti pada perumusan program, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata yang memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan. “Apa yang kita rencanakan harus bermuara pada peningkatan mutu pelayanan, penguatan pendidikan, serta manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)