Kolaborasi RS M. Djamil dan PDRPI FK Unand Diperkuat untuk Dorong Ekosistem Riset Kesehatan Nasional
Kolaborasi RS M. Djamil dan PDRPI FK Unand Diperkuat untuk Dorong Ekosistem Riset Kesehatan Nasional
PADANG — Sinergi antara RSUP Dr. M. Djamil dan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas terus dipacu guna memperkokoh ekosistem riset, diagnostik, serta inovasi kesehatan di Sumatera Barat. Langkah ini dinilai sangat strategis dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional berbasis riset dalam negeri.
Komitmen tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, SP, M.Si, meninjau langsung fasilitas PDRPI FK Unand pada Jumat (18/9). Kunjungan ini berfokus pada peninjauan sarana penelitian dan potensi pengembangan produk bioteknologi lokal.
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D, Kepala PDRPI FK Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, serta Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, menyampaikan bahwa integrasi antara rumah sakit dan PDRPI FK Unand merupakan langkah nyata menjembatani layanan medis dengan dunia akademis. Menurutnya, masalah klinis yang ditemukan di lapangan merupakan data berharga yang dapat diolah oleh tim peneliti.
"Sinergi ini sangat berharga. Rumah sakit menangani masalah klinis nyata setiap hari, sedangkan PDRPI memiliki keunggulan akademik dan kapasitas laboratorium. Menggabungkan kedua kekuatan ini akan melahirkan inovasi yang relevan dan bermanfaat bagi pasien," kata Dovy.
Ia menegaskan, kerja sama ini tidak berhenti pada taraf penelitian formal semata, melainkan dirancang menjadi ekosistem yang berkelanjutan—menghubungkan pelayanan medis, pendidikan, riset, hingga hilirisasi inovasi.
Selain penguatan diagnostik, kolaborasi ini difokuskan pada kemandirian produk bioteknologi nasional. RS M. Djamil siap berkontribusi memberikan perspektif klinis serta masukan data operasional agar riset yang dilakukan menjawab kebutuhan penanganan pasien di lapangan.
Dovy menambahkan, perjalanan riset hingga menjadi produk siap pakai memerlukan proses validasi, pengujian standar, dan regulasi yang panjang. Karena itu, keterlibatan aktif pemerintah, BRIN, akademisi, dan fasilitas kesehatan sangat krusial agar hilirisasi hasil riset dapat terwujud secara optimal.(SRP)
