Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menakar Komitmen dan Solidaritas Pascagalodo Arosuka: Dari Respon Cepat Menuju Pemulihan Berkelanjutan


Wapres RI Gibran Waktu Meninjau Bencana Galodo di Arosuka Kabupaten Solok

Oleh: Obral Chaniago

Tepat sepekan telah berlalu sejak Senim malam, 21 September 2026, saat alam menguji ketangguhan masyarakat Arosuka, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. 

Hujan deras ekstrem yang mengguyur dari hulu bukit memicu bencana alam ganda berupa banjir bandang (galodo) dan tanah longsor dahsyat. Hantaman arus air pekat bercampur lumpur, pasir, kirikil, dan bongkahan batu-batu besar menyapu bersih apa saja yang dilewatinya. Tidak hanya memporak-porandakan pemukiman warga dan memutus akses jalan nasional Padang-Solok, bencana ini juga menghancurkan 11 hingga belasan gedung kantor pemerintahan Kabupaten Solok, termasuk Dinas PUPR, DPMN, Dinas Kesehatan, hingga Sekretariat DPRD. 

Mobilisasi dan Ditemukannya Seluruh Korban

Puing-puing material yang menyumbat urat nadi wilayah Arosuka langsung direspoon dengan mobil-mobilisasi masif. Segenap elemen dari lembaga pemerintahan, aparat TNI/Polri, relawan, hingga warga yang peduli bahu-membahu bekerja siang dan malam. Belasan alat berat dan puluhan truk sampah/dam truk diturunkan tanpa henti guna mengeruk dan membuang material galodo dari jalan utama, area perkantoran, dan bibir sungai. 

Melalui kerja keras Tim SAR gabungan dan doa dari seluruh lapisan masyarakat, pencarian korban membuahkan hasil. Hingga hari ke lima pasca-bencana, seluruh korban yang dilaporkan hilang, yakni AG (59) dan SD (21), telah berhasil ditemukan berada dalam kondisi meninggal dunia.  Sementara itu, para korban luka-luka baik luka berat, sedang, ringan-seperti ML, AS, YN, dan MN, telah berhasil dievakuasi sebagaimana mestinya ke RSUD Arosuka dan SPH Padang untuk mendapatkan perawatan medis intensif. 

Kolaborasi Pimpinan dan Kunjungan Wakil Presiden

Tragedi kemanusian melahirkan harmoni koordinasi yang luar biasa. Bupati Solok Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra nyaris tidak memiliki waktu istirahat. Mereka terjun langsung ke lapangan sejak malam pertama musibah, memimpim jajaran pimpinan OPD Pemerintah Kabupaten Solok untuk melayani para penyintas yang mengungsi. Sinergi lokal ini diperkuat dengan kehadiran aktif Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansarullah dan Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy beserta unsur pimpinan OPD Pemprov Sumbar. Masyarakat dan pemerintah berpadu tanpa dikomandoi untuk memulihkan keadaan. 

Dampak kebencanaan yang meluas hingga merusak fasilitas negara ini menarik perhatian serius di tingkat pusat. Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka turun langsung membezuk para korban dan meninjau lokasi bencana pada Jumat, 25 September 2026. Wapres Gibran menyambangi titik pengungsian di Posko Balai Pemuda Kayu Aro, meninjau pemukiman di Koto Gaek, serta mengecek kerusakan jembatan Arosuka dan Kantor Dinas PUPR. 
Kehadiran Wakil Presiden yang didampingi oleh kepala daerah mempertegas bahwa penanganan Arosuka menjadi prioritas nasional. 

Rencana Strategis Penanggulangan Pascabencana

Pemerintah Kabupaten Solok telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari (mulai 22 September 2026). Dalam serangkaian rapat terbatas yang melibatkan Forkopimda dan instansi terkait, lahir sejumlah keputusan strategis jangka pendek dan jangka panjang. 

1. Pemerintah Kabupaten Solok: Fokus pada penanganan pemulihan layanan dasar. Uniknya, akibat resiko bencana yang berulang di area perbukitan saat ini, Pemkab Solok tengah mengkaji opsi efesiensi untuk memindahkan pusat perkantoran pemerintah kembali ke lokasi lama di daerah Koto Baru, alih-alih membangun ulang gedung dinas yang hancur di zona rawan. 

2. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat: Berencana mempercepat normalisasi aliran Sungai Batang Barus dan sungai disekitarnya guna membersihkan sisa sumbatan batu-kayu dan mencegah luapan susulan. 

3. Pemerintah Pusat: Berkomitmen mendukung penuh penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekontruksi Pascabencana (R3P). Melalui pendataan kategori rumah (rusa berat, sedang, dan ringan) per 28 September 2026, pemerintah pusat akan memfasilitasi bantuan hunian sementara yang layak serta pembangunan kembali fisik rumah warga yang hancur. 

Pemulihan Ekonomi dan Arus Bantuan

Bencana ini bukan sekadar hilangnya harta benda, melainkan juga pukulan telak bagi dampak ekonomi lingkungan tingkat lokal. Areal pertanian dan persawahan warga yang tergerus lumpur pekat menjadi perhatian utama. Wapres Gibran bahkan mengintruksikan agar pemulihan lahan pertanian diprioritaskan karena Solok merupakan lumbung pangan (seperti padi dan bawang merah) penopang Sumbar dan nasional. Selain itu, pemerintah mengupayakan pemberian keringanan cicilan/kredit perbankan bagi warga yang terdampak langsung. 

Hingga saat ini, segenap bantuan pascabencana terus mengalir ke Arosuka. Bantuan berupa logistik, hygiene kit, dapur air, pakaian, hingga paket sembako dan makanan siap saji telah berdatangan. Sumber bantuan ini datang meluas dari sinergi lembaga pemerintah (BNPB dan Kemensos), kepedulian pemerintah daerah sekitar (seperti Pemko Solok yang mengirimkan dump truk personel), lembaga filantropi (seperti Human Initiative dan Yayasan Budha Tzu Chi), hingga sumbangan swadaya masyarakat luas. 

Bila diamti, tragedi galodo Arosuka memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya penataan ruang berbasis resiko bencana. Keputusan awal dan lanjutan pemulihan yang digagas oleh kolaborasi tiga tingkat pemerintahan-daerah, provinsi, hingga pusat-harus dikawal secara konsisten. Arosuka tidak boleh sekadar dibersihkan materialnya, melainkan harus dibangun kembali menjadi kawasan yang lebih tangguh, aman, dan sejahtera bagi segenap masyarakatnya.