Merajut Beton, Menyalakan Harapan: Jejak Langkah Seminggu Wamen Diana bagi Nusantara
Di balik megahnya fondasi beton yang membentang di pelosok negeri, ada cerita tentang dedikasi, ketelitian, dan langkah kaki yang tak pernah lelah bergerak. Bagi Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti, sepekan bukan sekadar deretan angka di kalender kerja. Sepekan adalah ruang pengabdian sebuah ritme dinamis di mana kebijakan dirajut, masalah diurai, dan harapan masyarakat diterjemahkan menjadi karya nyata.
Dari ruang-ruang diskusi hingga derap langkah kaki di lapangan, sepekan kerja Wamen Diana memancarkan energi komitmen yang tak surut.
Awal pekan dibuka dengan gagasan visioner. Dalam ruang rapat yang hangat, gagasan mengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL) dimatangkan. Ini bukan lagi sekadar urusan kebersihan lingkungan, melainkan tentang bagaimana limbah masa kini diubah menjadi daya yang menghidupkan masa depan Indonesia secara berkelanjutan. Hari-hari berikutnya diisi dengan mengaitkan rantai sinergi: berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk menghidupkan pesona pariwisata nasional, serta merangkul asosiasi baja nasional demi menghadirkan infrastruktur yang tangguh dan siap merespons bencana secara cepat.
Namun, nurani seorang pemimpin pembangunan sejati selalu berada di tengah masyarakat yang membutuhkan. Ranah Minang dan pesisir Tuban menjadi perhatian hangat. Dalam rapat penanganan bencana Sumatera Barat hingga audiensi bersama Pemkot Padang dan Pemkab Tuban, setiap detail teknis dipastikan mulai dari normalisasi sungai, sabo dam, hingga pengelolaan sampah dan irigasi. Bagi Kementerian PU, infrastruktur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan benteng perlindungan kehidupan dan penggerak roda ekonomi warga.
Ketegasan dan visi strategis itu terpancar kuat saat mendampingi pembahasan anggaran di Komisi V DPR RI demi mengawal arah pembangunan 2027. Tak berhenti di balik meja kepemimpinan, jembatan tol yang menjulang di Ancol Timur–Pluit, hijau suburnya persawahan Cisalada berkat Irigasi Air Tanah, hingga indahnya Jembatan Kaca Sukamahi disapa langsung lewat pemantauan di lapangan.
Menutup sepekan yang penuh akselerasi, langkah kaki itu berayun penuh kepedulian di SCBD Jakarta. Lewat aksinya dalam Road to Camino De Flores, hadir seruan hangat untuk saling menopang dalam pemulihan Flores pascabencana.
“Merajut Tata Kelola Pembangunan untuk Manfaat Nyata bagi Negeri.” Sepenggal kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan napas dari setiap kerja keras yang ditorehkan. Sebuah ikhtiar tiada henti untuk memastikan bahwa setiap senilai anggaran dan setiap kilometer infrastruktur yang dibangun benar-benar hadir membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
