RS M. Djamil dan Unand Kembangkan Kit Diagnostik TB "IGRA": Langkah Konkret Menuju Kemandirian Alkes Nasional
RS M. Djamil dan Unand Kembangkan Kit Diagnostik TB "IGRA": Langkah Konkret Menuju Kemandirian Alkes Nasional
PADANG — RSUP Dr. M. Djamil Padang terus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan sekaligus pusat riset dan inovasi kesehatan nasional. Bekerja sama dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) serta sejumlah institusi riset di Indonesia, RS M. Djamil tengah menguji dan mengembangkan inovasi kit diagnostik Interferon Gamma-Release Assay (IGRA) untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis (TB).
Inovasi tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, saat melakukan kunjungan kerja ke RS M. Djamil pada Jumat (18/9). Dalam arahannya di Auditorium Gedung Administrasi dan IRJ RS M. Djamil, Wamenkes menegaskan pentingnya hilirisasi riset kesehatan demi melepaskan ketergantungan Indonesia dari alat kesehatan (alkes) impor.
“Presiden menekankan, kenapa kita harus selalu menggunakan alat kesehatan luar negeri? Masa tidak ada buatan Indonesia?” ujar Benjamin. Ia mengagumi pengembangan kit diagnostik IGRA yang diinisiasi oleh Kepala PDRPI FK Unand, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc. Menurutnya, teknologi pemeriksaan berbasis sampel darah ini menawarkan tingkat akurasi tinggi serta memungkinkan langkah pencegahan awal secara cepat jika seseorang teridentifikasi positif saat skrining.
Kementerian Kesehatan pun menargetkan kit diagnostik IGRA hasil karya anak bangsa ini sudah dapat dimanfaatkan secara luas untuk mendukung deteksi TB nasional pada tahun mendatang.
TKDN Capai 75 Persen, Ditargetkan Naik 85 Persen pada 2027
Pengembang utama kit diagnostik IGRA, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc., menjelaskan bahwa produk bioteknologi ini dibangun sepenuhnya dari nol oleh peneliti yang tersebar di lima institusi riset dan rumah sakit di Indonesia. Sebagian besar bahan baku utama, seperti protein induktor dan detektor, telah diproduksi di dalam negeri.
“Saat ini Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk IGRA sudah mencapai 70 hingga 75 persen. Kami menargetkan pada tahun 2027 TKDN dapat naik hingga 85 persen, seiring keberhasilan kita memproduksi antibodi sendiri di dalam negeri,” jelas Andani.
Bagi Andani, pengembangan IGRA bukan sekadar menghadirkan satu produk diagnostik, melainkan batu loncatan penting dalam membangun ekosistem riset dan produksi bioteknologi mandiri di Indonesia.
Transformasi RS M. Djamil: Dari Layanan Medis hingga Riset Unggulan
Sementara itu, Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan bahwa pengembangan riset berbasis kemitraan merupakan pilar penting dalam transformasi rumah sakit.
Selain deteksi TB, RS M. Djamil dan PDRPI FK Unand juga telah dan sedang mengembangkan berbagai metode diagnosis lainnya. Di antaranya panel sepsis, pneumonia, infeksi saluran kemih, meningitis, ulkus, saluran cerna, MRSA, Hepatitis B, HIV, hingga deteksi jenis kelamin.
“Ke depan, fokus riset RS M. Djamil tidak hanya terbatas pada metode diagnosis, tetapi juga mencakup evaluasi terapi, obat-obatan, vaksin, stem cell, biosimilar, serta pengembangan herbal medicine sebagai terapi komplementer. Penguatan fasilitas riset bersama PDRPI FK Unand ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar manfaatnya langsung dirasakan oleh pasien,” pungkas Dovy.(SRP)
