Menghidupkan Warisan Sang Perintis: Jejak Abadi Dr. Mohammad Djamil di Bumi Minangkabau
Menghidupkan Warisan Sang Perintis: Jejak Abadi Dr. Mohammad Djamil di Bumi Minangkabau
Waktu berjalan tanpa suara, tetapi jejak pengabdian seorang tokoh besar menolak untuk surut ditelan zaman. Di bawah rerindang pepohonan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (5/11), keheningan pagi menyatu dengan doa yang dipanjatkan seratus pasang bibir. Di pusara yang bersahaja itu, sejarah masa lalu dan denyut masa kini berirama dalam satu napas penghormatan.
Hari itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, memimpin langsung jajaran direksi, manajemen, perwakilan pemerintah daerah, UPT Kementerian Kesehatan RI, anggota DPRD Sumatera Barat, hingga masyarakat setempat dalam ziarah dan tabur bunga. Agenda sakral tersebut bukan sekadar ritual seremonial tahunan untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 RS M. Djamil. Lebih dari itu, ia adalah sebuah ziarah batin ruang perenungan bagi para insan kesehatan untuk menengok kembali akar ketulusan yang pernah ditanam oleh sang perintis.
Almarhum Dr. Mohammad Djamil ARTS, DPH, Dt Rangkayo Tuo bukan sekadar deretan nama yang terpampang megah di gerbang rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat tersebut. Ia adalah sebuah monumen hidup dari dedikasi kemanusiaan yang melampaui masanya. Namanya adalah lembaran sejarah yang merekam bagaimana dunia kesehatan di ranah minang dibangun di atas fondasi keringat, air mata, dan keikhlasan.
Tujuh dekade lebih bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah institusi untuk bertumbuh. Dari masa ke masa, RS M. Djamil telah melintasi lorong waktu yang panjang, menghadapi gelombang perubahan zaman, serta menjadi benteng pertahanan terakhir bagi ribuan pasien yang datang dengan harapan kesembuhan. Namun, di tengah gemerlap modernisasi alat-alat kedokteran dan pesatnya teknologi medis hari ini, sebuah pertanyaan mendasar digelorakan oleh Dr. Dovy Djanas di hadapan pusara sang tokoh.
"Sudah sejauh mana kita menjalankan amanah pelayanan kepada masyarakat? Sudahkah setiap tugas yang kita laksanakan mencerminkan integritas, profesionalisme, kepedulian, dan tanggung jawab?" ucap Dovy dengan suara sarat makna.
Bagi Dovy, angka 73 tahun usia rumah sakit harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan pencapaian institusional. Ia adalah cermin evaluasi diri. Pengabdian sejati, menurutnya, tidak pernah diukur dari seberapa megah jabatan yang diemban, melainkan dari seberapa besar kebaikan yang dirasakan oleh sesama manusia. Nama besar Dr. Mohammad Djamil yang disematkan pada rumah sakit tersebut adalah sebuah mandat moral yang berat sebuah kompas etik agar setiap denyut nadi pelayanan senantiasa berpihak pada keselamatan dan kemanusiaan.
Menuju Pengorbanan yang Mendapatkan Pengakuan Negara
Ada asa besar yang kini mulai disuarakan dengan lantang dari bumi Padang. Di sela-sela khidmatnya ziarah, sebuah langkah strategis dan bersejarah dicanangkan. RS M. Djamil bertekad untuk memastikan bahwa jasa-jasa besar Dr. Mohammad Djamil tidak hanya dikenang di ruang-ruang ingatan masyarakat lokal, tetapi juga mendapatkan pengakuan resmi di tingkat nasional.
Pihak manajemen rumah sakit mengumumkan komitmen untuk segera membentuk tim terpadu bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya satu: mempersiapkan seluruh dokumen, kajian, dan persyaratan yuridis-historis untuk mengusulkan Dr. Mohammad Djamil sebagai Pahlawan Nasional.
Langkah ini dipandang sebagai bentuk hutang sejarah yang harus dibayar oleh generasi penerus. Pengabdian seorang pejuang kesehatan di masa-masa sulit pembangunan bangsa layak disandingkan dengan para pejuang kemerdekaan lainnya, sebab menyelamatkan nyawa rakyat di tengah keterbatasan masa lampau adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan dan penderitaan. Dukungan penuh dari segenap elemen masyarakat Sumatera Barat kini menjadi angin penopang agar cita-cita luhur tersebut segera berbuah manis di bumi pertiwi.
Gema Warisan di Hati Keluarga
Keharuan yang mendalam turut dirasakan oleh pihak keluarga. Mewakili keluarga besar Dr. Mohammad Djamil, dr. Allan Gazali Saus, Sp.THT, MHA, menyampaikan apresiasi tulus kepada jajaran RS M. Djamil. Bagi keluarga, konsistensi rumah sakit dalam mengenang dan mengunjungi makam sang leluhur setiap tahunnya merupakan bukti bahwa ikatan batin antara sejarah dan institusi tidak pernah terputus.
"Kehadiran Bapak dan Ibu di pusara beliau merupakan penghormatan yang sangat berarti bagi kami," tutur Allan dengan nada haru.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup manusia memiliki batasan waktu, tetapi nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkan memiliki keabadian tersendiri. Semangat melayani, ketulusan merawat sesama, dan integritas moral yang dulu ditegakkan oleh Dr. Mohammad Djamil kini menjelma menjadi ruh yang menghidupkan langkah ribuan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan di RS M. Djamil hari ini.
Menjaga Marwah Rumah Sakit Kemanusiaan
Matahari perlahan naik, menyinari kawasan Kayu Tanam dan menyisakan keteduhan di hati setiap peziarah yang hadir. Ziarah hari itu ditutup dengan doa bersama, menitipkan harapan agar semangat kepahlawanan terus mengalir dalam setiap detak pelayanan kesehatan di Sumatera Barat.
Di usia yang ke-73, RS M. Djamil berdiri bukan sekadar sebagai bangunan beton tempat menyembuhkan raga, melainkan sebagai rumah besar kemanusiaan. Di sanalah nama Dr. Mohammad Djamil terus bernapas menjadi pengingat abadi bahwa di balik setiap kesembuhan seorang pasien, ada nilai perjuangan suci yang diwariskan oleh seorang pahlawan tanpa tanda jasa sejati.
Penulis: Sukra Rahmat Putra

