Meminang Masa Lalu di Teduhnya Taman Rimbo Kaluang
Padang - Di sudut Jalan Raden Saleh, Padang Baru, waktu seolah melambat di bawah naungan pohon-pohon yang kini nampak lebih berseri. Taman Rimbo Kaluang, yang dahulu sempat muram dan terabaikan, kini telah bersalin rupa. Ia tidak lagi sekadar sebidang tanah lapang, melainkan sebuah ruang terbuka yang "eye catching"—begitu orang-orang masa kini menyebutnya.
Jejak Rimbun yang Bersemi Kembali Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, berkisah dengan binar optimisme pada Rabu (7/1). Baginya, revitalisasi yang rampung di tahun 2025 itu bukan sekadar memoles permukaan. Ini adalah upaya menghidupkan kembali denyut jantung kota bagi keluarga dan anak muda.
“Kawasan ini menyimpan sejarah sebagai salah satu pinggiran kota dan pusat perjuangan rakyat Padang pada masa kolonial,” tutur Fadelan. Di sana, modernitas dan memori kolektif berjalin kelindan. Ruang rekreasi modern sengaja dihadirkan tanpa sedikit pun menepis rasa hormat pada masa lalu yang heroik.
Antara Tawa Anak dan Monumen Sejarah Jika dahulu kawasan ini adalah rimba lebat tempat para kaluang (kelelawar) bernaung, kini suara kepak sayap itu berganti dengan gelak tawa anak-anak. Di atas hamparan material EPDM yang empuk dan berwarna-warni, anak-anak berlarian aman dari luka. Perosotan dan ayunan menjadi panggung kegembiraan baru, bersanding dengan deretan alat gym outdoor yang memanjakan raga para pelancong kota.
Namun, di balik kecantikan taman bunga hias dan jalur jalan santai yang estetik, Rimbo Kaluang tetaplah seorang saksi bisu. Berawal dari pembangunan jalan di tahun 1954, kawasan ini pernah menjadi arena pacuan kuda yang megah. Kini, ia tegak berdiri mengawal Monumen Pertempuran Pertama 1946—sebuah pengingat abadi akan keberanian rakyat Padang menyerang markas Sekutu.
Taman Rimbo Kaluang kini bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah sebuah narasi tentang kota yang menolak lupa, yang merawat luka sejarah dengan taman-taman indah, dan yang menyediakan ruang bagi setiap napas kehidupan untuk tumbuh lebih cantik dari hari kemarin.
Penulis: Sukra Rahmat Putra
