Sawahlunto Menolak Tunduk: Sinergi Ditreskrimsus dan Polres Sawahlunto Babat Habis Penambangan Emas Ilegal
SAWAHLUNTO – Komitmen terhadap kelestarian alam dan supremasi hukum bukan sekadar retorika di Kota Sawahlunto. Di bawah komando langsung Kapolres Sawahlunto, AKBP Simon Yana Putra, S.I.K., M.H., sebuah operasi besar penyisiran dan penutupan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) digelar secara masif pada Rabu (11/03/2026).
Langkah ini menjadi sinyal keras bagi para pelaku tambang ilegal: Tidak ada ruang bagi perusak lingkungan di wilayah hukum Sawahlunto.
Operasi Terukur: Kolaborasi Polda dan Polres
Operasi ini bukan sekadar penertiban biasa. Kehadiran Tim Ditreskrimsus Polda Sumatera Barat di lapangan menunjukkan bahwa penanganan PETI di Sawahlunto dilakukan dengan standar penyidikan yang ketat dan profesional. Sinergi antara kekuatan Polda dan Polres memastikan setiap titik koordinat tambang ilegal disegel tanpa kompromi.
"Penutupan ini adalah respons atas jeritan lingkungan dan laporan masyarakat. Kami tidak akan membiarkan aset alam Sawahlunto hancur demi keuntungan segelintir oknum. Ini adalah langkah nyata melindungi masa depan kota ini," tegas AKBP Simon Yana Putra dalam arahan tegasnya saat apel pasukan.
Dukungan Akar Rumput: Menjaga Warisan Dunia
Ada pemandangan yang tak biasa dalam operasi kali ini. Penindakan hukum ini tidak berjalan sendirian di bawah bayang-bayang senjata, melainkan mendapat restu penuh dari struktur sosial masyarakat. Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, jajaran DPRD, hingga tokoh adat (Ninik Mamak) dan tokoh pemuda berdiri bahu-membahu di lokasi.
Keterlibatan para pemangku adat ini menjadi legitimasi moral bahwa praktik PETI adalah musuh bersama. Masyarakat Sawahlunto sadar betul bahwa status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO menuntut tanggung jawab besar dalam menjaga ekosistem tanah dan air dari cemaran bahan kimia berbahaya.
Dampak Operasi: Lebih dari Sekadar Penutupan
Operasi gabungan ini menyasar dua aspek krusial:
Efek Jera (Deterrent Effect): Penutupan fisik lokasi dan penghentian alat berat mengirimkan pesan bahwa negara hadir dan tidak kalah oleh mafia tambang.
Edukasi dan Preventif: Selain penegakan hukum, tim gabungan secara persuasif memberikan pemahaman kepada warga mengenai bahaya jangka panjang penggunaan merkuri dan kerusakan struktur tanah yang dapat memicu bencana alam.
Menuju Solusi Berkelanjutan
Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, mengapresiasi langkah cepat Polri dan menegaskan bahwa pemerintah kota tidak akan tinggal diam. Pasca-penutupan, Pemkot berkomitmen merumuskan solusi ekonomi alternatif agar masyarakat tidak lagi bergantung pada aktivitas ilegal yang merusak.
Dengan berakhirnya operasi ini, "Kota Kuali" kembali menegaskan identitasnya: Sebuah kota sejarah yang menjaga kelestariannya dengan keberanian hukum yang tajam dan sinergi masyarakat yang solid.(SRP)
