Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RSUP Dr. M. Djamil Kampanyekan Awareness dan Dukungan untuk Pasien Parkinson




Padang - RSUP Dr. M. Djamil memperingati World Parkinson’s Day 2026 dengan menggelar kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat pada Senin (13/4). Rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Kelompok Kerja Gangguan Gerak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengangkat tema “Awareness, Early Care, and Everyday Support for Parkinson’s”.

Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit Parkinson, sekaligus mendorong deteksi dini serta dukungan berkelanjutan bagi para pasien. Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Yuliarni Syafitra, Sp.N(K) yang memberikan penjelasan komprehensif tentang penyakit neurodegeneratif tersebut.

“Parkinson merupakan penyakit degenerasi otak yang menyebabkan kematian sel-sel pada bagian otak yang disebut substansia nigra. Bagian ini terletak di batang otak bagian atas dan memiliki peran penting dalam memproduksi dopamin. Penurunan dopamin inilah yang kemudian berdampak langsung pada gangguan gerak pada pasien,” kata Prof. Yuliarni Syafitra di Poliklinik Neurologi.

Ia menjelaskan dopamin merupakan zat kimia di otak yang berfungsi penting dalam mengatur pergerakan tubuh. Ketika kadar dopamin menurun, kemampuan tubuh untuk mengontrol gerakan menjadi terganggu. “Kondisi inilah yang memunculkan berbagai gejala khas pada penyakit Parkinson,” sebutnya.

Terdapat empat pilar utama gejala Parkinson yang perlu dikenali masyarakat. Pertama adalah bradikinesia, yaitu kondisi di mana gerakan menjadi melambat dan amplitudo gerakan menurun. Kedua adalah rigiditas, berupa kekakuan pada sendi yang membuat pergerakan terasa berat. Ketiga adalah tremor, yaitu gerakan bergetar yang biasanya muncul saat anggota tubuh dalam kondisi istirahat. Keempat adalah ketidakstabilan postural, yang menyebabkan gangguan keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh.

Meski demikian, perjalanan penyakit Parkinson pada setiap pasien bersifat unik. Gejala yang muncul dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, baik dari segi jenis, tingkat keparahan, maupun progresivitasnya. Hal ini membuat penanganan penyakit Parkinson memerlukan pendekatan yang bersifat personal dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yuliarni juga menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan segera berkonsultasi ke dokter spesialis neurologi apabila mengalami tanda-tanda yang mengarah pada Parkinson. “Diagnosis yang tepat dan penanganan sejak awal dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien,” tegasnya.

Ia menambahkan gejala Parkinson dapat dikendalikan dengan penggunaan obat anti-Parkinson. “Terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan fungsi gerak pasien, sehingga mereka tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Bahkan, banyak pasien yang masih dapat bekerja dan menjalani kehidupan produktif dengan semangat,” ucapnya.

Melalui peringatan World Parkinson’s Day ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya deteksi dini, perawatan yang tepat, serta dukungan dari lingkungan sekitar bagi penderita Parkinson. Dukungan keluarga dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam membantu pasien menjalani kehidupan yang lebih baik.(*)