Rekam Jejak dan Dedikasi Mochammad Dian Alma’ruf dalam Mengelola Aliran Negeri
MENJAGA RITME AIR, MERAWAT PERADABAN
Rekam Jejak dan Dedikasi Mochammad Dian Alma’ruf dalam Mengelola Aliran Negeri
Oleh: Sukra Rahmat Putra
Air tak pernah memilih ke mana ia mengalir, namun ia selalu tahu cara menemukan jalan pulang. Di tangan seorang birokrat sekaligus teknokrat seperti Mochammad Dian Alma’ruf, S.Si., S.T., M.T., aliran air baik yang tenang menghidupi persawahan maupun yang bergolak membawa ancaman banjir bukan sekadar persoalan debit dan dimensi tanggul. Bagi Plt. Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini, mengelola air adalah seni merawat peradaban dan keselamatan manusia.
Langkah kakinya di koridor Kementerian PU hari ini adalah buah dari bentangan panjang dedikasi di berbagai wilayah krusial di Indonesia. Karirnya merekam sebuah konsistensi: di mana ada tantangan pengelolaan air yang pelik, di situ ia hadir membawa solusi strategis.
Ketegasan dan Keterbukaan di Ranah Minang
Masyarakat Sumatera Barat tentu tidak asing dengan kepemimpinannya saat menjabat sebagai Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V Padang. Ranah Minang dengan topografi uniknya dikelilingi perbukitan curam dan dialiri sungai-sungai yang rawan meluap menjadi ruang ujian nyata bagi kapabilitas seorang Dian Alma’ruf.
Di bawah komandonya, BWSS V Padang bergerak responsif. Salah satu warisan pemikiran dan kebijakannya yang krusial adalah inisiasi dan perencanaan infrastruktur mitigasi bencana pasca-galodo (banjir bandang). Ia mengawal komitmen besar pemerintah pusat untuk merencanakan pembangunan puluhan infrastruktur pengontrol sedimen (Sabo Dam) guna meminimalisir risiko bencana di kawasan rentan seperti Kabupaten Tanah Datar.
Namun, rekam jejaknya di Padang tidak hanya tertulis pada beton-beton infrastruktur. Dian dikenal sebagai sosok pemimpin yang membawa angin segar dalam transparansi publik. Baginya, kritik dari masyarakat, lembaga swadaya, maupun jurnalis adalah instrumen penting untuk memacu kinerja yang lebih baik.
"Kami selalu menerima baik itu dari awak media, LSM, dan masyarakat untuk berdiskusi. Kita bukan anti-kritik. Karena dengan adanya kritikan, kami bisa bekerja lebih baik lagi," ungkapnya dalam sebuah audiensi hangat di Aula BWSS V Padang beberapa waktu lalu.
Ketegasannya pun meluncur tanpa kompromi saat berhadapan dengan integritas proyek negara. Secara terbuka, ia menantang seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengawasi jalannya pembangunan dan tidak segan meminta publik melaporkan jika ditemukan oknum mitra kerja yang menyalahi aturan tata kelola material konstruksi.
Menjinakkan Citarum, Merambah Pusat
Keberhasilan menata infrastruktur air di Sumatera Barat menjadi batu pijakan yang mengantarkannya pada tanggung jawab yang lebih masif. Dian Alma’ruf kemudian dipercaya menakhodai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum di Jawa Barat—salah satu wilayah sungai paling strategis sekaligus paling kompleks di Indonesia.
Di tanah pasundan, ia memegang peran penting dalam mengoptimalkan sistem irigasi, termasuk rehabilitasi Saluran Induk Tarum Utama Daerah Irigasi Jatiluhur. Proyek vital ini menjadi tulang punggung bagi ketahanan pangan nasional, memastikan pasokan air mengalir lancar demi mengamankan produksi beras di Jawa Barat sebagai lumbung padi nasional.
Bagi Dian, rotasi jabatan dan perpindahan wilayah tugas adalah bagian dari ritme pengabdian yang dinamis. Dalam sebuah kesempatan pisah sambut, ia merefleksikan filosofi kepemimpinannya:
"Setiap tantangan baru merupakan awal menuju peluang besar untuk tumbuh."
Menatap Tantangan Nasional di Direktorat Sungai dan Pantai
Filosofi "tumbuh bersama tantangan" itulah yang kini dibawanya ke ibu kota. Menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Sungai dan Pantai Ditjen SDA Kementerian PU, ruang lingkup pengabdian Dian Alma’ruf kini meluas dalam skala nasional.
Tantangan di tingkat pusat jauh lebih kompleks. Ia harus merumuskan kebijakan makro, mengoordinasikan penanganan abrasi pantai di berbagai titik kepulauan Indonesia, hingga mematangkan kesepakatan strategis penanggulangan banjir terintegrasi—seperti kolaborasi pembangunan tanggul di wilayah-wilayah rawan banjir pesisir bersama pemerintah daerah.
Dari tepian sungai di Sumatera Barat, menyusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang legendaris, hingga kini merumuskan kebijakan di meja Kementerian PU, Mochammad Dian Alma’ruf menunjukkan bahwa seorang pejabat publik tidak hanya bekerja dengan angka dan cetak biru tak bernyawa. Ia memimpin dengan mendengar, mengesekusi dengan ketegasan teknis, dan memperlakukan tata kelola air sebagai ikhtiar terbaik untuk melindungi kehidupan masyarakat Indonesia.
