Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sinergi Legislator dan Museum: Menjaga "Suluah" Minangkabau Agar Tak Padam Ditelan Zaman



PADANG – Di sebuah ruangan yang sarat akan nuansa kekeluargaan, lagu Indonesia Raya membahana, menandai sebuah momentum penting bagi masa depan kebudayaan di Sumatera Barat. Hari itu, sebuah kolaborasi apik tersaji antara kebijakan politik dan kerja nyata pelestarian budaya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peran Tokoh Adat dalam Menjaga Budaya Minang.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada tangan dingin dan keberpihakan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Fraksi PKS, H. Gustami Hidayat, yang memilih mewujudkan tanggung jawab politiknya melalui pelestarian akar rumput. Melalui penyaluran dana pokok-pokok pikiran (Pokir), sang legislator menegaskan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter berbasis adat dan kearifan lokal.

"Lembaga adat dan kegiatan kebudayaan adalah benteng terakhir kita," ungkap sang Anggota Dewan dalam sambutannya yang penuh motivasi. Dukungan anggaran yang ia kucurkan menjadi bukti nyata bahwa politik bisa menjadi jalan keluar untuk memperkuat marwah Minangkabau di tengah derasnya arus globalisasi.

Garda Terdepan dari Museum Adityawarman

Gayung pun bersambut. UPTD Museum Adityawarman di bawah kepemimpinan Dr. Tuti Alawiyah, SE, S.Pd.I, MA, bergerak cepat menerjemahkan visi tersebut. Sebagai ujung tombak pelestarian, Tuti Alawiyah menekankan bahwa peran tokoh adat kini semakin krusial sebagai "garda terdepan".

"Budaya Minang bukan hanya fosil masa lalu yang tersimpan di etalase, tetapi jati diri yang harus terus mengalir ke generasi muda," ujar Tuti dengan nada optimis saat melaporkan kesiapan panitia. Baginya, museum dan tokoh adat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam merawat identitas daerah.

Tantangan Digital: Dari Petuah ke Media Sosial

Suasana menjadi kian hidup ketika dialog antara pemangku kebijakan dan pelaku budaya ini menyentuh realitas digital. Tokoh Sumatera Barat, Buya Syafrijhon, melempar sebuah pemikiran yang memicu diskusi hangat. Ia mengingatkan bahwa sinergi DPRD dan UPTD Museum harus mampu menjangkau dunia maya.

"Sekarang zamannya digitalisasi. Kalau ingin budaya Minang dikenal luas, museum harus aktif di media sosial. Promosi jangan lagi pakai cara-cara lama," tegas Buya Syafrijhon yang disambut anggukan setuju dari para peserta.

Masukan ini menjadi catatan penting bagi UPTD Museum Adityawarman untuk terus bertransformasi. Bahwa di bawah dukungan kebijakan dewan, museum harus mampu tampil modern agar dicintai generasi Z tanpa kehilangan esensi nilai-nilai luhurnya.

Langkah Nyata Merawat Marwah

Bimtek ini akhirnya menjadi potret ideal bagaimana sebuah daerah menjaga hartanya yang paling berharga: Budaya. Melalui dukungan dana Pokir DPRD yang tepat sasaran dan pengelolaan program yang inovatif dari UPTD Museum Adityawarman, harapan agar budaya Minang ndak lakang dek paneh, ndak lapuak dek hujan bukan lagi sekadar kiasan.

Sinergi ini adalah langkah nyata. Sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa di masa depan, anak cucu Minangkabau masih memiliki jati diri yang kuat sebuah identitas yang tumbuh subur di tanah asalnya, namun dikenal luas hingga ke penjuru dunia lewat layar-layar digital.

Penulis: Sukra Rahmat Putra