Tingkatkan Konektivitas Antarwilayah, Proyek Preservasi Jalan dan Jembatan di Sumbar Senilai Rp 18,6 Miliar Tuai Apresiasi Warga
PADANG — Kementerian Pekerjaan UMUM dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga resmi memulai proyek strategis infrastruktur di wilayah Sumatera Barat. Proyek bertajuk "Preservasi Jalan dan Jembatan Padang - Lb. Alung - Padang Panjang - Padang Luar, Padang Panjang - Bts. Kota Solok" ini menelan anggaran fantastis bersumber dari APBN senilai Rp 18.678.477.000,-.
Berdasarkan data papan proyek yang dirilis oleh Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Sumbar, pengerjaan yang dimulai sejak penandatanganan kontrak pada 27 Februari 2026 ini mempercayakan PT. Sarana Mitra Saudara sebagai penyedia jasa (kontraktor utama), didampingi oleh PT. Seecons KSO PT. Indec Internusa selaku konsultan supervisi. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu 308 hari kalender.
Langkah masif pemerintah dalam menggenjot infrastruktur jalan penghubung utama antar-kabupaten/kota di Sumatera Barat ini langsung memicu gelombang respons positif dari masyarakat setempat.
Apresiasi dari Pengguna Jalan dan Pelaku Usaha
Masyarakat menyambut baik dimulainya proyek bernilai miliaran rupiah ini. Sebagai jalur nadi perekonomian yang menghubungkan Kota Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, hingga batas Kota Solok, kondisi jalan yang prima memang menjadi dambaan sejak lama.
"Kami sangat mengapresiasi langkah cepat Kementerian PUPR. Jalur ini adalah urat nadi distribusi barang, hasil tani, dan juga jalur utama pariwisata. Dengan adanya preservasi ini, kami merasa uang pajak yang kami bayarkan benar-benar kembali dalam bentuk pembangunan yang nyata," ujar salah seorang pengguna jalan yang sering melintasi rute Padang–Padang Panjang.
Apresiasi senada juga datang dari para pelaku usaha logistik. Mereka menilai perbaikan kualitas jalan dan jembatan secara berkala akan menekan biaya operasional kendaraan serta memangkas waktu tempuh secara signifikan.
Harapan Besar di Masa Depan
Di balik apresiasi yang tinggi, masyarakat juga menggantungkan harapan besar agar proyek ini berjalan tepat mutu dan tepat waktu. Mengingat masa pelaksanaan yang mencapai 308 hari, warga berharap pihak kontraktor dapat mengatur lalu lintas dengan bijak selama proses pengerjaan agar tidak menimbulkan kemacetan parah di titik-titik rawan.
Selain itu, warga menaruh harapan agar kualitas pengawasan dari pihak konsultan supervisi dilakukan secara ketat. Masyarakat menginginkan hasil akhir jalan yang memiliki daya tahan tinggi (durabilitas) panjang, mengingat jalur ini kerap dilalui oleh kendaraan bertonase berat dan rawan terdampak cuaca ekstrem khas perbukitan Sumatera Barat.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah, kontraktor, dan pengawasan ketat, proyek preservasi ini diharapkan tidak sekadar menjadi serapan anggaran, melainkan mampu menggerakkan roda ekonomi dan menghadirkan rasa aman serta kenyamanan berkendara bagi seluruh masyarakat ranah Minang.
Penulis: Sukra Rahmat Putra
