RS M. Djamil Matangkan Rencana Pembangunan Gedung Dormitory
PADANG – RSUP M. Djamil Padang terus mematangkan langkah strategis dalam merevitalisasi infrastruktur kesehatannya. Sebagai bagian dari pengembangan masterplan kawasan rumah sakit, jajaran manajemen RS M. Djamil menggelar pertemuan koordinasi dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Provinsi Sumatera Barat pada Rabu (17/6).
Pertemuan ini difokuskan untuk mendapatkan masukan, arahan, serta dukungan pembiayaan terkait rencana pembangunan gedung dormitory (asrama). Fasilitas ini dinilai memiliki peran ganda dan krusial dalam menjaga stabilitas pelayanan pasien selama masa transisi pembangunan besar-besaran di rumah sakit rujukan utama wilayah Sumatera bagian tengah tersebut.
Infrastruktur Tertinggal, Revitalisasi Jadi Urgensi
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengungkapkan bahwa modernisasi fisik bangunan sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Saat ini, hampir 70 persen bangunan rumah sakit telah berusia antara 30 hingga 40 tahun.
"Dari sisi sumber daya manusia, kita sudah memiliki tenaga yang cukup lengkap dan kompeten. Namun dari sisi sarana dan bangunan, kondisi kita sudah tertinggal jauh dibanding rumah sakit-rumah sakit Kementerian Kesehatan lainnya," ujar Dr. Dovy.
Rencana besar ini telah masuk ke dalam Green Book yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan RI melalui skema pendanaan pinjaman dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Selain itu, proyek pengembangan ini juga akan mengoptimalkan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang telah mengantongi izin pengelolaan.
Strategi Mengatasi Dampak Pembangunan Gedung Utama
Pada tahap awal, RS M. Djamil dijadwalkan membangun Gedung Central Medical Unit (CMU) setinggi delapan lantai dan gedung rawat inap Non-JKN setinggi lima lantai. Namun, proyek ini membawa tantangan tersendiri: proses konstruksi akan berdampak pada pembongkaran (demolisi) ruang rawat inap eksisting yang mengakibatkan hilangnya sekitar 179 tempat tidur dari total kapasitas 800 tempat tidur.
Untuk menyiasati penurunan kapasitas pelayanan tersebut, manajemen mengambil langkah taktis berupa percepatan pembangunan gedung dormitory. Berdasarkan arahan Kementerian Kesehatan, pembangunan gedung ini digeser ke tahap awal dari yang semula direncanakan pada tahap ketiga.
"Gedung dormitory ini sementara akan difungsikan sebagai ruang rawat inap untuk menggantikan kapasitas tempat tidur yang terdampak pembangunan. Setelah gedung CMU dan gedung rawat inap Non-JKN selesai dibangun, maka fungsi gedung dormitory akan dikembalikan ke fungsi awalnya," jelas Dr. Dovy.
Sesuai rencana jangka panjangnya, setelah masa transisi usai, gedung dormitory akan dikembalikan sebagai fasilitas pendidikan dan pelatihan (diklat), pusat pengembangan SDM, serta akomodasi bagi keluarga pasien.
Dukungan Penuh Dinas Perkimtan Sumbar
Langkah proaktif RS M. Djamil berkoordinasi dengan Dinas Perkimtan Sumbar ditujukan untuk membuka peluang dukungan pembiayaan melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman RI.
Merespons hal tersebut, Kepala Dinas Perkimtan Provinsi Sumatera Barat, Ahdiyarsyah, ST, MT, memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap visi modernisasi RS M. Djamil.
"Ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk bersama-sama mendorong terwujudnya pembangunan gedung dormitory tersebut. Kami melihat pengembangan yang dilakukan RS M. Djamil merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sumatera Barat dan wilayah Sumatera bagian tengah," pungkas Ahdiyarsyah.
Melalui sinergi antar-instansi ini, proyek megaproyek RS M. Djamil diharapkan dapat segera direalisasikan tanpa mengorbankan kenyamanan dan mutu pelayanan bagi masyarakat luas.
Penulis: Sukra Rahmat Putra
