Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

M Djamil Padang Dorong Dokter Spesialis dan Subspesialis Terus Belajar dan Berinovasi




Padang - Sebanyak 35 dokter yang terdiri atas 34 dokter spesialis dan 1 dokter subspesialis resmi diyudisium dalam Yudisium Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode III Tahun 2026 di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf pada Rabu (8/7). Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengingatkan para lulusan agar memaknai gelar spesialis maupun subspesialis sebagai awal dari amanah untuk terus belajar, berinovasi, serta memberikan pelayanan kesehatan yang mengedepankan kompetensi, etika profesi, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Dovy Djanas menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan spesialis maupun subspesialis. Pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan sebagai seorang dokter, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Gelar spesialis ataupun subspesialis bukanlah garis akhir, melainkan amanah baru. Amanah untuk terus belajar sepanjang hayat, menghasilkan penelitian yang bermanfaat, mendidik generasi berikutnya, memperluas akses pelayanan kesehatan, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan dunia kesehatan saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat seiring berkembangnya berbagai teknologi modern. Kemajuan kecerdasan buatan, kedokteran presisi, terapi berbasis genomik, teknologi robotik, digitalisasi layanan kesehatan hingga pemanfaatan big data telah mengubah wajah pelayanan medis secara mendasar. Oleh karena itu, para dokter dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kita hidup pada masa ketika dunia kesehatan mengalami perubahan yang sangat cepat. Perkembangan kecerdasan buatan, kedokteran presisi, terapi berbasis genomik, teknologi robotik, digitalisasi layanan kesehatan, hingga pemanfaatan big data telah mengubah wajah pelayanan medis secara fundamental,” katanya.

Meski demikian, Dovy mengingatkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi, nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi landasan utama dalam menjalankan profesi kedokteran. Setiap pasien yang datang ke rumah sakit tidak hanya membawa penyakit, tetapi juga harapan, kecemasan, ketidakpastian, bahkan rasa takut yang membutuhkan perhatian dan empati dari seorang dokter.

“Namun di tengah kemajuan teknologi tersebut, terdapat satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu nilai-nilai kemanusiaan dalam profesi kedokteran. Pasien datang kepada kita bukan hanya membawa penyakit, tetapi juga membawa harapan, kecemasan, ketidakpastian, bahkan rasa takut. Mereka membutuhkan dokter yang mampu mendengarkan, memberikan penjelasan yang jujur, mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah, serta menghadirkan ketenangan melalui sikap yang penuh empati,” ungkapnya.

Ia berharap para dokter spesialis dan subspesialis yang diyudisium mampu menjadi tenaga medis yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga memiliki integritas dan akhlak yang baik dalam menjalankan profesinya.

“Karena itu, saya berharap para dokter spesialis dan subspesialis yang hari ini diyudisium mampu menjadi sosok yang unggul dalam kompetensi sekaligus luhur dalam budi pekerti. Jadilah dokter yang rendah hati terhadap ilmu pengetahuan, terbuka terhadap perkembangan teknologi, namun tetap menjunjung tinggi etika profesi dan nilai-nilai kemanusiaan,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Dovy juga menegaskan komitmen RS M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Rumah sakit memiliki kehormatan sekaligus tanggung jawab besar dalam membentuk dokter-dokter spesialis yang berkualitas melalui perpaduan antara proses pendidikan akademik dengan praktik pelayanan kesehatan secara langsung.

“RS M. Djamil memiliki kehormatan sekaligus tanggung jawab besar sebagai rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Di rumah sakit inilah proses pendidikan bertemu dengan realitas pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Setiap ruang rawat, kamar operasi, unit gawat darurat, poliklinik, hingga ruang diskusi ilmiah menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan bahwa ilmu kedokteran bukan hanya tentang diagnosis dan terapi, tetapi juga tentang empati, komunikasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang sering kali penuh ketidakpastian,” jelasnya.

Ia mengatakan hubungan antara Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan RS M. Djamil telah terjalin selama puluhan tahun dan menjadi fondasi penting dalam menghasilkan ribuan dokter spesialis yang kini mengabdi di berbagai daerah di Indonesia. Kolaborasi tersebut dinilainya bukan sekadar kerja sama institusional, tetapi merupakan kemitraan strategis dalam membangun sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas bagi bangsa.

“Hubungan antara Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan RS M. Djamil telah terjalin selama puluhan tahun dan telah melahirkan ribuan dokter spesialis yang kini mengabdi di berbagai daerah di Indonesia. Kolaborasi ini bukan hanya sebuah kerja sama institusional, tetapi merupakan kemitraan strategis dalam membangun sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas bagi bangsa,” katanya.

Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan sekaligus rumah sakit rujukan tersier di wilayah Sumatera bagian tengah, lanjut Dovy, RS M. Djamil terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penguatan pendidikan, pelayanan, dan penelitian yang berjalan secara terpadu. “Oleh karena itu, pendidikan, pelayanan, dan penelitian harus terus berjalan secara terpadu sehingga menghasilkan inovasi sekaligus peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan keberhasilan para peserta yudisium merupakan hasil dari proses pendidikan yang panjang, penuh dedikasi, serta kerja keras yang melibatkan dosen, pembimbing, rumah sakit pendidikan, keluarga, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama masa pendidikan. “Kami berharap para lulusan mampu mengemban amanah profesi dengan penuh tanggung jawab, menjaga integritas, menjunjung tinggi etika kedokteran, serta terus meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat dan berkontribusi dalam kemajuan dunia kesehatan di Indonesia,” harapnya.(*)