RS M. Djamil Peringati World Brain Day dengan Edukasi Neurorestorasi Pasca-Stroke
Padang - RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Memperingati World Brain Day 2026, rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menggelar penyuluhan kesehatan bertema Neurorestorasi Pasca-Stroke di Poliklinik Saraf, Rabu (22/7). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pasien dan keluarga, tentang pentingnya rehabilitasi sejak dini setelah serangan stroke agar penyintas dapat kembali hidup mandiri dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Penyuluhan menghadirkan dokter spesialis neurologi sekaligus konsultan, dr. Reno Bestari, Sp.N, FNR, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, dr. Reno menjelaskan neurorestorasi pasca-stroke merupakan rangkaian upaya terpadu yang bertujuan membantu penyintas memperbaiki jaringan dan fungsi saraf yang mengalami gangguan akibat stroke. Proses ini juga berfokus pada pemulihan kemampuan fungsional, seperti bergerak, berjalan, berbicara, hingga melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
"Neurorestorasi pasca-stroke adalah upaya menyeluruh untuk membantu penyintas memperbaiki fungsi saraf dan mengembalikan kemampuan bergerak, berbicara, serta merawat diri sehingga dapat kembali mandiri dan memiliki kualitas hidup yang baik," ujar dr. Reno.
Ia menegaskan neurorestorasi bukan sekadar latihan fisik, melainkan proses komprehensif yang mencakup pemulihan fungsi fisik, kemampuan bicara, fungsi kognitif, kondisi emosional, hingga aspek sosial penyintas. “Keberhasilan pemulihan tidak hanya bergantung pada terapi medis, tetapi juga memerlukan pendekatan multidisiplin yang dilakukan secara berkesinambungan,” ungkapnya.
Reno memaparkan beberapa komponen penting neurorestorasi. Neuroproteksi dilakukan dengan melindungi sel-sel saraf yang masih sehat serta mengendalikan berbagai faktor risiko. Neuroregenerasi bertujuan memperbaiki jaringan saraf yang rusak, salah satunya melalui perkembangan terapi seperti stem cell yang masih terus diteliti.
Sementara itu, neuroplastisitas merupakan kemampuan alami otak membentuk koneksi baru untuk menggantikan fungsi jaringan yang mengalami kerusakan. Neurorestorasi juga didukung dengan neuromodulasi menggunakan teknologi seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) dan Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS), serta neurorehabilitasi melalui berbagai latihan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
"Tujuan utama neurorestorasi adalah memulihkan fungsi yang hilang, meningkatkan kemandirian pasien, mencegah komplikasi, menjaga kesehatan jiwa, meningkatkan kualitas hidup, sekaligus mengurangi risiko terjadinya stroke berulang," jelasnya.
Ia menekankan rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin setelah kondisi pasien stabil. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa keterlambatan memulai rehabilitasi akan berdampak langsung terhadap hasil pemulihan. "Setiap satu jam keterlambatan memulai rehabilitasi dapat mengurangi potensi pemulihan sekitar 10 hingga 15 persen. Karena itu, rehabilitasi tidak boleh ditunda apabila kondisi pasien sudah memungkinkan," kata dr. Reno.
Ia menjelaskan proses neurorestorasi berlangsung melalui beberapa tahapan. “Yakni fase akut yang dimulai sejak serangan stroke terjadi hingga beberapa hari pertama, fase subakut yang berlangsung dalam beberapa minggu hingga bulan, serta fase kronik atau pemeliharaan yang bertujuan mempertahankan hasil rehabilitasi dan meningkatkan kemampuan pasien dalam jangka panjang,” paparnya.
Menurut dr. Reno, keberhasilan pemulihan penyintas stroke dipengaruhi oleh banyak faktor. Tingkat keparahan stroke, lokasi kerusakan otak, usia pasien, kecepatan penanganan pada fase akut, intensitas serta waktu dimulainya rehabilitasi menjadi faktor yang menentukan. “Selain itu, penyakit penyerta, komplikasi pasca-stroke, status nutrisi, motivasi pasien, kondisi psikologis, dukungan keluarga dan lingkungan, serta kepatuhan menjalani terapi juga memiliki peran besar dalam menentukan hasil akhir rehabilitasi,” sebutnya.
Untuk mendukung proses pemulihan, berbagai teknik rehabilitasi dapat diterapkan sesuai kebutuhan pasien. “Teknik tersebut meliputi mobilisasi dini, metode Neuro Developmental Treatment (NDT/Bobath), Constraint-Induced Movement Therapy (CIMT), Mirror Therapy, stimulasi listrik, hingga pemanfaatan teknologi seperti robot rehabilitasi dan treadmill dengan alat bantu,” tuturnya.
Reno menegaskan bahwa keluarga memiliki peran yang tidak tergantikan dalam proses pemulihan penyintas stroke. "Keluarga adalah kunci pemulihan. Dukungan, motivasi, dan keterlibatan keluarga dalam mendampingi pasien menjalani rehabilitasi sangat menentukan keberhasilan neurorestorasi sehingga penyintas dapat kembali produktif dan mandiri," pungkasnya.(*)
