Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RS M. Djamil Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kesehatan Lewat Tata Kelola Klinis ‎


‎Padang - RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penguatan tata kelola klinis. Sebagai rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil menggelar Pelatihan Tata Kelola Klinis Keperawatan dan Tenaga Kesehatan Lainnya yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Minggu (26/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis rumah sakit dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
‎Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, saat membuka kegiatan menegaskan tata kelola klinis bukan sekadar konsep administratif, melainkan komitmen bersama seluruh tenaga kesehatan untuk menghadirkan pelayanan yang berkualitas dan aman bagi pasien.
‎"Tata kelola klinis merupakan komitmen seluruh tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa setiap pelayanan diberikan berdasarkan standar profesi, bukti ilmiah terkini, prinsip keselamatan pasien, serta budaya perbaikan mutu yang berkesinambungan. Oleh karena itu, keberhasilan tata kelola klinis tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh tenaga kesehatan," ujarnya.
‎Menurut dr. Maliana, pelatihan ini merupakan salah satu upaya strategis RS M. Djamil dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia sehingga mampu menerapkan praktik klinis yang profesional, akuntabel, dan kolaboratif di setiap unit pelayanan. "Dengan meningkatnya kompetensi tenaga kesehatan, diharapkan kualitas pelayanan kepada masyarakat juga semakin optimal," tuturnya.
‎Ia menambahkan melalui pelatihan tersebut peserta diharapkan semakin memahami pentingnya penerapan standar pelayanan dan standar profesi secara konsisten, penguatan budaya mutu dan keselamatan pasien, penerapan praktik berbasis bukti atau evidence-based practice, manajemen risiko klinis, komunikasi yang efektif dan kolaborasi antarprofesi, serta evaluasi berkelanjutan terhadap mutu pelayanan. "Apabila seluruh prinsip tersebut dapat diterapkan secara konsisten, maka manfaatnya akan dirasakan secara langsung oleh pasien melalui pelayanan yang lebih aman, lebih efektif, lebih bermutu, dan lebih berpusat pada kebutuhan pasien," katanya.
‎Maliana mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan pelatihan sebagai ruang pembelajaran sekaligus wadah berbagi pengalaman dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di lingkungan rumah sakit. "Saya ingin mengajak seluruh peserta untuk menjadikan pelatihan ini sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman. Jangan hanya hadir sebagai peserta, tetapi jadilah agen perubahan atau change agent di unit kerja masing-masing," ujarnya.
‎Ia juga menekankan pentingnya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan dalam praktik pelayanan sehari-hari. Keberhasilan pelatihan ini tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari sejauh mana peserta mampu menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan kerja di unit masing-masing.
‎"Ilmu yang diperoleh selama pelatihan hendaknya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam praktik sehari-hari dan ditularkan kepada rekan kerja sehingga mampu membangun budaya mutu yang kuat di seluruh unit pelayanan," tuturnya.
‎Melalui pelaksanaan pelatihan ini, dr. Maliana berharap seluruh tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya semakin siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. "Dengan tata kelola klinis yang kuat, rumah sakit optimistis dapat terus meningkatkan mutu layanan, memperkuat budaya keselamatan pasien, serta memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat," tukasnya.(*)