Asa Baru Bagi Layanan TB: Kala RS M. Djamil dan Kemenkes Padukan Langkah Renovasi Lab BSL 2+
Padang - RS M. Djamil terus mempersiapkan pengembangan sarana pelayanan kesehatan rujukan. Salah satunya melalui rencana renovasi Laboratorium Biosafety Level 2 (BSL 2+). Pada Jumat (14/8), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini menerima kunjungan tim Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI di Ruang Rapat Direksi.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka peninjauan lapangan terhadap lokasi yang disiapkan untuk renovasi Laboratorium BSL 2+ di RS M. Djamil. Kegiatan diawali dengan diskusi mengenai rencana renovasi, kesiapan lokasi, serta berbagai kebutuhan yang perlu dipersiapkan agar proses pengembangan laboratorium dapat berjalan sesuai standar dan kebutuhan pelayanan.
Direktur Layanan Operasional RS M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian penting dalam mematangkan persiapan sebelum renovasi Laboratorium BSL 2+ dilaksanakan. "Peninjauan ini menjadi langkah awal yang penting untuk melihat secara langsung kesiapan lokasi dan kebutuhan renovasi Laboratorium BSL 2+. Kami berharap seluruh proses persiapan dapat dilakukan dengan baik sehingga renovasi nantinya dapat berjalan sesuai dengan standar dan kebutuhan pelayanan rumah sakit," ujar drg. Ade.
Menurut drg. Ade, rencana renovasi Laboratorium BSL 2+ juga memiliki arti penting dalam menunjang peran RS M. Djamil sebagai rumah sakit pengampu layanan tuberkulosis (TB). Dengan posisi tersebut, kesiapan fasilitas laboratorium menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pemeriksaan dan pelayanan TB, termasuk dalam penanganan kasus yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium dengan tingkat keamanan biologis yang sesuai.
"Laboratorium BSL 2+ yang nantinya direnovasi diharapkan dapat semakin menunjang RS M. Djamil dalam menjalankan perannya sebagai pengampu layanan TB. Karena sebagai rumah sakit pengampu, kita membutuhkan dukungan fasilitas laboratorium yang memadai untuk menunjang pelayanan, pemeriksaan, dan jejaring rujukan TB," jelasnya.
Ia menambahkan, renovasi Laboratorium BSL 2+ tidak hanya menyangkut pembenahan fisik ruangan, tetapi juga perlu memperhatikan tata ruang, alur pelayanan, sistem keamanan biologis, serta berbagai kebutuhan teknis lainnya. “Karena itu, koordinasi antara RS M. Djamil dan Kementerian Kesehatan diperlukan agar perencanaan renovasi dapat dilakukan secara matang,” ucapnya.
Tim Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI dipimpin oleh Pengelola Data Yanuar Ikhsan. Dalam kunjungan tersebut, tim didampingi Direktur Layanan Operasional RS M. Djamil drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi RS M. Djamil, Dr. dr. Linosefa, Sp.MK.
Usai berdiskusi di Ruang Rapat Direksi, rombongan kemudian mengunjungi lokasi yang disiapkan untuk renovasi Laboratorium BSL 2+. Lokasi tersebut berada di lingkup area Laboratorium Sentral RS M. Djamil.
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi lokasi sekaligus mencermati berbagai kebutuhan yang nantinya menjadi bagian dari proses renovasi. Tim juga meninjau aspek tata ruang dan fasilitas yang perlu disiapkan agar laboratorium dapat mendukung pelayanan dengan aman dan sesuai standar biosafety.
Kepala Laboratorium Mikrobiologi RS M. Djamil, Dr. dr. Linosefa, Sp.MK, turut mendampingi peninjauan dengan memberikan gambaran tentang kebutuhan pelayanan dan aktivitas pemeriksaan laboratorium yang nantinya akan didukung oleh fasilitas tersebut.
Menurut drg. Ade, rencana renovasi Laboratorium BSL 2+ diharapkan dapat menghadirkan fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelayanan RS M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan sekaligus pengampu layanan TB.
"Kami berharap rencana renovasi ini dapat segera memasuki tahapan berikutnya setelah seluruh persiapan dan peninjauan dilakukan. Yang paling penting, fasilitas yang nantinya dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan dapat memberikan dukungan yang optimal bagi Laboratorium Mikrobiologi, khususnya dalam menunjang peran RS M. Djamil sebagai pengampu layanan TB," tukasnya. (*)
