Membangun Budaya Mutu, RSUP Dr. M. Djamil Matangkan Persiapan Akreditasi Demi Keselamatan Pasien
PADANG — Komitmen terhadap kualitas pelayanan kesehatan tidak pernah berhenti pada batasan administratif. Bagi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang, akreditasi bukan sekadar agenda penilaian berkala untuk meraih predikat mutlak, melainkan sarana evaluasi menyeluruh dalam mengokohkan budaya keselamatan pasien (patient safety) secara berkelanjutan.
Langkah nyata tersebut kembali ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Persiapan Akreditasi Rumah Sakit yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (28/8/2026). Pertemuan strategis yang dihadiri oleh seluruh jajaran manajemen dan lintas unit ini berfokus pada pemenuhan standar pelayanan, kelengkapan dokumen pendukung, hingga koordinasi taktis penerapan standar teknis di lapangan.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan bahwa persiapan akreditasi harus dipandang sebagai momentum untuk memperkuat sistem kerja sehari-hari, bukan hanya kesibukan seremonial menjelang ketibaan tim surveior.
“Akreditasi jangan dipandang sebagai persiapan menghadapi survei saja. Yang paling penting adalah bagaimana standar tersebut benar-benar menjadi bagian dari pekerjaan kita sehari-hari. Mutu dan keselamatan pasien harus menjadi budaya dalam setiap proses pelayanan,” tegas Dovy Djanas di hadapan peserta rapat.
Integrasi Pelayanan dan Penguatan Budaya Mutu
Sebagai rumah sakit rujukan utama di bawah naungan Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil mengoperasikan sistem medis yang kompleks dan saling terhubung. Oleh karena itu, kesiapan akreditasi membutuhkan sinergi utuh di seluruh lini—mulai dari pelayanan klinis, tata kelola administrasi, manajemen risiko, Pengendalian Infeksi (PPI), hingga keselamatan pasien.
Dovy mengingatkan pentingnya keselarasan antara kelengkapan dokumen dan praktik nyata di lapangan. Menurutnya, keberhasilan rumah sakit terletak pada manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat penikmat layanan.
“Kita tidak ingin hanya bagus di dokumen. Apa yang tertulis harus sama dengan apa yang dilakukan di lapangan. Kalau standar sudah dibuat, maka harus dipahami, dilaksanakan, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, rumah sakit bekerja sebagai satu kesatuan ekosistem di mana setiap unit memiliki keterkaitan erat. Komunikasi serta kolaborasi yang kuat menjadi kunci agar tidak ada bagian pelayanan yang berjalan sendiri-sendiri.
Evaluasi Terbuka untuk Perbaikan Berkelanjutan
Dalam masa persiapan ini, RSUP Dr. M. Djamil juga menjadikan identifikasi kekurangan sebagai langkah positif menuju penyempurnaan layanan. Celah atau kendala teknis yang ditemukan selama evaluasi internal dipandang sebagai peluang emas untuk pembenahan sistem.
“Kalau dalam persiapan ini kita menemukan masih ada kekurangan, jangan dianggap sebagai masalah yang harus ditutupi. Justru itu menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan perbaikan. Tujuan akhirnya bukan hanya lulus akreditasi, tetapi bagaimana pelayanan kita semakin baik dan semakin aman bagi pasien,” tutur Dovy.
Membangun budaya mutu menuntut konsistensi jangka panjang. Harapannya, seluruh insan RSUP Dr. M. Djamil—tanpa memandang profesi maupun unit kerja—memiliki rasa kepemilikan (ownership) yang tinggi terhadap standar keselamatan.
“Mutu adalah tanggung jawab kita bersama. Apa pun profesi dan unit kerjanya, semua memiliki kontribusi terhadap keselamatan pasien. Saya mengajak seluruh jajaran untuk mempersiapkan akreditasi ini dengan serius, tetapi tetap menjadikan perbaikan pelayanan sebagai tujuan utama,” pungkasnya.
Melalui persiapan yang matang dan berkesinambungan ini, RSUP Dr. M. Djamil terus membuktikan posisinya sebagai benteng pelayanan kesehatan terdepan di Sumatra Barat yang ramah, aman, dan berstandar internasional. (*)
