Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karya BWS Sumatera V di Daerah Irigasi Batanghari: Menjemput Panen Melimpah, Memperkuat Ekonomi Rakyat



Karya BWS Sumatera V di Daerah Irigasi Batanghari: Menjemput Panen Melimpah, Memperkuat Ekonomi Rakyat

Air selalu punya caranya sendiri untuk merajut kehidupan. Di hamparan persawahan yang membentang dari Dharmasraya hingga melintasi batas perbatasan ke Bungo dan Tebo, gemericik air irigasi bukan sekadar aliran cair tanpa makna. Ia adalah urat nadi, penjaga napas, sekaligus janji akan masa depan pangan yang senantiasa melimpah bagi puluhan ribu warga.

Sektor pertanian telah lama menjadi benteng utama perekonomian masyarakat setempat. Di balik suburnya padi yang menguning, ada keringat dan kerja keras para petani yang tak pernah usai. Menjawab peluh dan harapan tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V bergerak melakukan langkah nyata: membenahi dan mengoptimalkan Daerah Irigasi Batanghari.

Bukan sekadar deretan angka fisik, percepatan progres proyek yang kini menembus 58,70%—melampaui target awal 44,19% per Agustus 2026 adalah wujud tenggat waktu yang dipercepat demi kesejahteraan rakyat. Perbaikan saluran Tebing Tinggi sepanjang 850 meter serta saluran Kampung Baru sepanjang 370 meter, lengkap dengan pengerjaan lining, timbunan, hingga jalan inspeksi, dilakukan untuk memastikan air tersalurkan tanpa hambatan.

Manfaat dari denyut pembangunan ini menjangkau langsung hingga ke akar rumput. Dengan debit intake mencapai 16 hingga 17 m³/detik yang mengalir melalui saluran primer, sekunder, hingga tersier, sebanyak 5.837 hektar sawah kini terjamin pasokan airnya. Indeks Pertanaman (IP) yang menyentuh angka 275% menjadi bukti nyata bahwa lahan-lahan pertanian di wilayah ini tak lagi cemas menghadapi musim kering, memungkinkan total luas tanam mengembang hingga 16.052 hektar.

Dampak sosialnya begitu terasa luas, menembus batas administratif dua provinsi. Sebanyak 19 Nagari di Kabupaten Dharmasraya—mulai dari Kecamatan Pulau Punjung, Sitiung, Tiumang, Padang Laweh, Koto Baru, Koto Salak, hingga Koto Besar—kini menggantungkan asa pada jaringan air yang lebih andal. Tak berhenti di Sumatera Barat, senyum kebahagiaan itu turut menjangkau masyarakat lintas batas di Provinsi Jambi, meliputi 7 desa di Kecamatan Jujuhan Hilir (Bungo) serta 2 desa di Kecamatan VII Koto (Tebo).

Ketika aliran irigasi Batanghari mengalir deras melintasi pematang, ia membawa serta kepastian hidup, kemandirian pangan, dan senyum optimisme para petani. Pembangunan infrastruktur air ini bukan lagi sebatas konstruksi beton dan tanah, melainkan investasi kemanusiaan yang memastikan dapur warga tetap mengepul dan bumi pertiwi terus memberi kehidupan.

"Dulu kalau masuk musim kering, kami sering cemas dan harus bergantian air sampai larut malam. Sekarang air mengalir deras dan pasti. Kami tidak perlu takut lagi gagal panen, bahkan dalam setahun kami sudah bisa tanam sampai tiga kali," ujar Pak Hasan dengan mata berbinar sembari memandangi bulir padi yang mulai bernas.

Dampak kesejahteraan ini tak hanya dirasakan oleh para petani di Dharmasraya. Di batas perbatasan, senyum lega yang sama juga mengembang di wajah para petani di Jujuhan Hilir, Bungo, Jambi. Aliran irigasi Batanghari menjadi bukti nyata bahwa air tidak pernah mengenal batas wilayah administratif—ia menyatukan harapan masyarakat lintas provinsi.

Bagi warga setempat, aliran irigasi yang tertata rapi ini bukan sekadar urusan air dan tanah. Ia adalah kepastian dapur yang tetap mengepul, biaya sekolah anak-anak yang terjamin, serta jaminan masa depan yang lebih cerah bagi generasi tani mendatang.

Penulis: Sukra Rahmat Putra