Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lakukan Pembatasan Tonase di Jembatan Silaut, PPK 2.4 PJN II Sumbar Imbau Pengguna Jalan Menyesuaikan Jadwal Perjalanan



‎PADANG — Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Provinsi Sumatera Barat melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 mengimbau para pengguna jalan yang secara rutin melintasi Jembatan Silaut untuk dapat menyesuaikan jadwal perjalanan mereka, terutama bagi angkutan komoditas kelapa sawit lintas provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu.
‎Langkah ini diambil menyusul pengetatan operasional dan pembatasan beban kendaraan demi menjaga keselamatan serta ketahanan jembatan sementara (bailey) yang menghubungkan jalur vital kawasan selatan Sumbar menuju Bengkulu tersebut.
‎PPK 2.4 Satker PJN Wilayah II Sumbar, Gina Lamria Indriati Tampubolon, S.T., menyampaikan bahwa uji coba Jembatan Bailey telah berhasil dilaksanakan pada 2–3 September 2026. Sejumlah perbaikan pada kondisi lantai jembatan hingga area oprit juga telah dirampungkan untuk memastikan kelayakan perlintasan.
‎"Untuk menjaga ketahanan jembatan sementara ini, PPK 2.4 menetapkan pembatasan tonase kendaraan yang melintas, yaitu maksimum 25 ton," ungkap Gina.
‎Selain pembatasan beban, skema perlintasan kendaraan berat juga diperketat. Kendaraan berbobot besar wajib melintas secara bergantian satu per satu dan dilarang keras melintas secara beriringan di atas jembatan.
‎Langkah tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Jika pengendara memaksakan tonase yang melebihi kemampuan daya dukung jembatan, dikhawatirkan jembatan sementara tersebut tidak akan mampu bertahan hingga seluruh pekerjaan penggantian lantai selesai dilakukan. Kondisi ini berpotensi fatal dan dapat berakibat pada putusnya jalur transportasi vital ruas jalan Tapan hingga batas Provinsi Bengkulu.
‎Pengetatan operasional ini sendiri dilakukan seiring berjalannya tahapan perbaikan permanen. Pekerjaan penggantian lantai jembatan direncanakan berlangsung selama 60 hari, meliputi proses pembongkaran lantai lama, pembesian, pengecoran, hingga masa pemeliharaan beton mencapai umur matang dan siap dilintasi secara optimal.
‎Para pengguna jalan, khususnya sopir angkutan barang dan logistik sawit, diminta untuk senantiasa mematuhi rambu-rambu petunjuk serta arahan petugas di lapangan guna menjaga kelancaran lalu lintas dan keamanan bersama. Setelah seluruh rangkaian pekerjaan selesai nanti, masyarakat juga diharapkan dapat ikut menjaga dan merawat kondisi jembatan ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan dalam menopang urat nadi perekonomian kawasan. (SRP)