Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SUJUD DAN SYUKUR, NAFASNYA SEORANG MUSLIM SEJATI

 
SUJUD DAN SYUKUR, NAFASNYA SEORANG MUSLIM SEJATI

Oleh : Adi Kampai

Menjadi muslim sejati bukan hanya soal identitas di KTP. Ia adalah soal hati yang tunduk dan lisan yang tak pernah lelah bersyukur.

Sujud dan syukur adalah dua hal yang tak bisa kita tinggalkan. Keduanya adalah napas iman. Tanpa sujud, kita sombong. Tanpa syukur, kita kufur.

Allah SWT tidak menciptakan kita untuk sekedar hidup, makan, dan menumpuk harta. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

_"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."_ (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Mengabdi itu wujudnya adalah sujud. Sujud adalah puncak kerendahan, saat kening yang paling mulia kita tempelkan ke tanah yang paling rendah, sebagai pengakuan bahwa kita ini hamba, bukan Tuhan. Di saat itulah kita paling dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda, sedekat-dekat hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.

Lalu setelah sujud, apa? Syukur.

Allah menganjurkan kita untuk selalu bersyukur, bukan hanya saat senang, tapi di setiap keadaan. Karena syukur bukan sekedar ucapan "Alhamdulillah" di bibir, tapi kesadaran penuh bahwa semua yang kita miliki hari ini adalah titipan-Nya.

Janji Allah itu pasti. Dia tidak akan pernah ingkar.

_"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengkufuri (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."_ (QS. Ibrahim: 7)

Rezeki itu bukan hanya uang. Sehat itu rezeki, keluarga yang tenang itu rezeki, hati yang sabar itu rezeki. Dan semua rezeki itu akan Allah limpahkan, Allah lipatgandakan, kepada umatnya yang pandai bersyukur.

Maka jangan pernah tinggalkan sujudmu, seberat apapun hidupmu. Dan jangan pernah berhenti syukurmu, sesulit apapun ujianmu. Karena di dalam sujud ada kekuatan, dan di dalam syukur ada kelimpahan.