Padang-sumateraline.com- Perkembangan peradaban manusia ternyata memberikan dampak semakin berkembang pula teknologi komunikasi dan informasi pada semua jenis media komunikasi massa (media cetak, elektronik dan online). Berbicara tentang komunikasi memang tidak pernah habis, sejak lahir kita sudah melakukan komunikasi dengan cara pribadi, kelompok, publik, massa, dan interaksi berlangsung secara tatap muka, dalam bentuk (verbal) maupun (nonverbal). Manusia akan selalu membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi. Dengan berkomunikasi, setiap orang akan mengenal dirinya dan orang lain secara tepat. 

Terdapat berbagai pola atau bentuk komunikasi dalam menyampaikan pesan-pesan kepada orang lain baik secara linear maupun sirkuler, atau berlangsung secara satu arah, dua arah, atau multi arah. Pada prinsipnya, kebutuhan komunikasi merupakan suatu keniscayaan dalam setiap kegiatan hisup manusia termasuk kegiatan keagamaan seperti dakwah Islam. Pelaku dakwah kerap melakukan interaksi dengan mad’u sebagai proses penyampaian pesan-pesan agama sekaligus mengajak mereka untuk senantiasan hidup menurut arahan atau tuntutan Islam.

 Aktivitas dakwah tidak mungkin melepaskan diri dari proses interaksi antara da’i dan mad’u dalam kaitan mengajak mereka untuk untuk mengamalkan islam secara utuh dan komprehensif.

Bagi seorang pendakwah komunikasi menjadi modal utama untuk dapat menyampaikan pesan dakwahnya secara efektif. Para pelaku dakwah dituntut untuk memiliki kompetensi untuk mempermudah tercapainya tujuan dakwah yang telah ditetapkan sebelumnya, Seorang da’i dan da’iyah idealnya memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, memilih dan menerapkan pola komunikasi yang baik dan benar, supaya pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh mad’u.

Padang merupakan daerah yang masyarakatnya bermayoritas Islam, salah satunya adalah kawasan Kota Padang, masyarakat di sini dengan mudah bisa mendapatkan dakwah, karena banyak terdapat da’i dan da’iyah di Kota Padang yang mampu dalam menyampaikan dakwah. Mengingat da’i dan da’iyah memiliki banyak aktivitas dakwah dan memiliki segmentasi dakwah yang berbeda-beda sehingga perlu pola komunikasi tertentu yang digunakan.

Pola komunikasi dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Pola komunikasi sering juga disebut dengan istilah konteks komunikasi, tingkat atau level komunikasi, bentuk komunikasi, situasi, keadaan, arena atau jenis, cara, dan katagori. Pola atau konteks komunikasi tersebut sangat bergantung pada berbagai kondisi atau situasi terjadinya komunikasi itu sendiri. terdiri dari pola komunikasi kelompok dan publik. 

Komunikasi kelompok diantaranya komunikasi kelompok kecil atau small group communication yang sifatnya face to face (tatap muka). 

Kelompok adalah sejumlah orang yang yang berinteraksi satu sama lain dan mencapai tujuan bersama, masing-masing anggota saling bergantung satu sama lainnya dan mengenal satu sama lainnya dan anggota kelompok memandang satu sama lain sebagai bagian dari kelompok tersebut, meskipun setiap anggota boleh jadi punya peran berbeda. Respon balik (feedback) dari seorang peserta dalam komunikasi kelompok masih bisa diidentifikasi dan ditanggapi langsung oleh peserta lainnya. 

Kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok disebabkan pola komunikasi ini juga melibatkan juga komunikasi antarpribadi.

Komunikasi publik (publik communication) dapat dipahami sebagai komunikasi yang berlangsung diantara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak) dimana masing-masing orang tidak saling mengenal satu sama lain.

 Komunikasi publik sering juga dikenal dengan istilah kuliah umum, pidato atau ceramah. 

Biasanya, komunikasi publik berlangsung dalam situasi yang lebih formal dan karakterisristiknya lebih sulit dibandingkan dengan komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok. Hal ini terjadi disebabkan komunikasi publik menuntut persiapan pesan yang lebih cermat serta kemampuan menghadapi sejumlah besar orang. Efektif tidaknya komunikasi publik sangat bengantung pada daya tarik fisik pembicara – bahkan sering dianggap faktor penting yang menentukan efektivitas pesan – selain keahlian dan kejujuran mereka. Berbeda dengan komunikasi antarpribadi yang membuat perserta komunikasi sama-sama aktif, maka pihak komunikan sebagai pihak yang mendengar cenderung bersikap pasif. 

Pihak komunikan sangat terbatas dalam menyampaikan umpan balik terutama umpan balik sifatnya verbal. Umpan balik nonverbal pun hanya terbatas dapat dilakukan oleh orang-orang yang duduk paling depan karena dapat terlihat dengan jelas. Meskipun jarang terjadi, dalam pola komunikasi ini pembicara juga memungkinkan menerima umpan balik yang sifatnya serentak, misalnya tertawa secara serentak atau melakukan tepuk tangan.

Komunikasi publik memiliki karakteristik berlangsung di tempat umum, contohnya  auditorium, kelas, tempat ibadah, atau tempat lainnya yang dihadiri sejumlah besar orang. Komunikasi publik sering bertujuan memberikan penerangan, menghibur, memberikan penghormatan, atau membujuk. Komunikasi ini sifatnya lebih formal karena kelangsungannya telah direncanakan dan terstruktur, terdapat agenda, beberapa orang ditunjuk untuk menjalankan fungsi-fungsi khusus, seperti memperkenalkan pembicara, dan sebagainya.

Romi Altavia – 1920862009

Magister Ilmu Komunikasi UNAND 2019 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top